PARIGI, EQUATORNEWS – Angin perubahan sedang bertiup kencang dari ufuk timur, membawa kabar tentang goyahnya singgasana durian di pasar jagat raya. Di tengah kemelut yang melanda para raksasa eksportir tetangga, Kabupaten Parigi Moutong kini berdiri di ambang pintu sejarah. Ini bukan sekadar perkara niaga, melainkan sebuah ujian nyali dan integritas bagi Bumi Khatulistiwa untuk membuktikan tajinya sebagai episentrum baru durian dunia.
Ketua Kamar Dagang dan Industri KADIN Kabupaten Parigi Moutong, Faradiba Zaenong, menangkap getaran kegelisahan pasar global tersebut sebagai sebuah sinyal peringatan sekaligus peluang emas yang tak boleh disia-siakan. Saat ini, peta perdagangan durian dunia sedang bersalin rupa. Vietnam terpaksa mengerem laju ekspornya ke Tiongkok akibat sandungan standar keamanan pangan, sementara Thailand tertunduk lesu menghadapi kemacetan distribusi yang memaksa harga terjun bebas di tingkat petani.
Runtuhnya dominasi para pemain lama ini menciptakan celah besar di pasar Tiongkok. Sang Naga kini lebih selektif, memegang kendali harga dengan jemari besi, dan hanya membukakan pintu bagi buah dengan kualitas tanpa cela. Inilah potret nyata dari pasar yang dikendalikan pembeli, di mana kesempurnaan produk adalah satu-satunya paspor untuk bertahan.
Menyikapi gelombang perubahan ini, Faradiba Zaenong mengeluarkan seruan yang menggetarkan sanubari para pelaku usaha. Ia menegaskan bahwa situasi ini adalah cermin bagi kualitas dan kejujuran kolektif bangsa. Menurutnya, ancaman paling nyata bukan datang dari persaingan mancanegara, melainkan dari borok internal yang kerap mengabaikan nilai-nilai integritas.
Saya menegaskan, praktik manipulasi kualitas dan pencampuran buah yang tidak layak ekspor harus segera dihentikan. Pasar global tidak bisa ditipu. Sekali kepercayaan itu retak, maka selamanya pintu peluang akan tertutup bagi kita semua, ujar Faradiba dengan nada bicara yang penuh penekanan.
Bagi Faradiba, menjaga nama baik daerah jauh lebih berharga daripada keuntungan sesaat yang diraih dengan cara-cara culas. Ia memberikan imbauan keras kepada seluruh petani dan pemasok di Kabupaten Parigi Moutong serta Sulawesi Tengah untuk menjunjung tinggi standar panen dan sortir. Baginya, kompromi terhadap kualitas adalah pengkhianatan terhadap masa depan industri durian tanah air.
Lebih baik tidak mengirim produk sama sekali daripada mengirimkan kehancuran bagi nama baik daerah. Kepercayaan adalah mata uang paling berharga dalam pergaulan dagang internasional, lanjutnya lagi.
Kini, Kabupaten Parigi Moutong berada di persimpangan jalan. Apakah akan tetap menjadi penonton di balik bayang-bayang, atau bangkit menjadi pemain utama yang disegani. Faradiba menutup pernyataannya dengan sebuah filosofi yang tajam, mengingatkan bahwa waktu tidak akan pernah berpihak pada mereka yang berlambat-lambat dalam berbenah.
Pasar tidak pernah menunggu mereka yang baru akan bersiap. Ruang kemenangan hanya tersedia bagi mereka yang sudah siap hari ini. Inilah saatnya kita membuktikan bahwa dari tanah Parigi Moutong, lahir durian-durian yang akan menaklukkan dunia, pungkasnya.
FAYRUZ










