Ragam  

Fajar Persatuan di Tepian Mepanga: Kala Sang Pemimpin Membuka Pintu Hati

Fayruz
Bupati Parigi Moutong, H Erwin Burase S.Kom, gelar Open House di Kediamannya di Desa Mepanga, Kecamatan Mepanga - Foto : Diskominfo

MEPANGA, EQUATORNEWS – Mentari baru saja memanjat ufuk di langit Desa Mepanga ketika gerbang kediaman itu terbuka lebar, bukan sekadar kayu dan besi yang berderit, melainkan sebuah undangan tulus bagi jiwa-jiwa yang rindu akan kebersamaan. Selasa, 24 Maret 2026, menjadi saksi bisu betapa sekat antara penguasa dan rakyat lebur dalam kehangatan peluk persaudaraan di bawah atap kediaman Bupati Parigi Moutong, H. Erwin Burase.

​Sejak pukul 09.00 WITA, denyut kehidupan di Kecamatan Mepanga terasa lebih kencang. Jalanan dipenuhi langkah kaki yang membawa harapan, mulai dari para abdi negara di ujung Tinombo Selatan hingga pelosok Kecamatan Moutong. Para camat, penjaga lentera kesehatan di Puskesmas, hingga para panglima desa hadir membawa senyum yang sama. Tak ada pembatas yang kaku. Tokoh agama yang teduh, pemuda dengan semangat membara, serta perempuan-perempuan tangguh Parigi Moutong bersatu dalam satu narasi besar: Silaturahmi.

​H. Erwin Burase berdiri di ambang pintu, menyambut setiap tangan yang terulur dengan binar mata yang memancarkan ketulusan. Di bawah langit Mepanga, jabatan seolah menanggalkan jubah kemegahannya, berganti menjadi sosok ayah dan sahabat bagi setiap warga yang datang. Tawa pecah di sela-sela jamuan, merambat hingga ke sudut-sudut ruangan, menciptakan melodi kekeluargaan yang jarang ditemukan dalam protokoler yang kaku.

​Dalam helaan napas yang penuh syukur, sang pemimpin menitipkan pesan mendalam. Baginya, pertemuan ini adalah urat nadi pembangunan. Kekuatan emosional yang terjalin antara pemerintah dan rakyat adalah fondasi beton yang akan menopang mimpi-mimpi Parigi Moutong untuk bangkit lebih maju dan sejahtera. Gotong royong bukan lagi sekadar slogan usang, melainkan napas yang berembus nyata dalam perhelatan tersebut.

​Hingga rembulan mengambil alih tugas mentari dan jarum jam menunjuk angka 22.00 WITA, arus manusia tak kunjung surut. Antusiasme itu menjadi bukti sahih bahwa rindu akan harmoni masih sangat kental di tanah Parigi Moutong. Open House ini bukan sekadar seremoni pengisi waktu, melainkan sebuah inklusi sosial yang nyata, di mana suara rakyat dan kebijakan pemerintah bertemu dalam satu meja perjamuan yang puitis dan penuh martabat.

FAYRUZ/*

Bagika Berita :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *