PARIGI, EQUATORNEWS – Di aula yang menjadi saksi bisu berbagai kebijakan besar, tepat di lantai dua Kantor Bupati Parigi Moutong, Rabu (21/1), sebuah narasi baru tentang kedaulatan ekonomi mulai dituliskan. Musyawarah Kabupaten ke-V Kamar Dagang dan Industri (KADIN) menjadi panggung bagi sebuah komitmen suci untuk memacu pertumbuhan daerah melalui pemanfaatan potensi bumi yang berkelanjutan. Di tengah riuh rendah pertemuan itu, sosok Faradiba Zaenong berdiri tegak, membawa visi yang melampaui sekadar angka dan statistik perdagangan. Ketua KADIN Parigi Moutong tersebut menegaskan bahwa akselerasi ekonomi bukanlah sebuah perjalanan sunyi yang bisa ditempuh sendiri.
Baginya, setiap langkah kemajuan memerlukan harmoni dan sinergi yang erat antara pemerintah daerah sebagai penjaga kebijakan dan dunia usaha sebagai mesin penggerak di lapangan. Faradiba meyakini bahwa kolaborasi adalah kunci utama untuk membangun resiliensi ekonomi yang berakar kuat pada komoditas lokal, sebuah benteng yang akan menjaga daerah dari badai ketidakpastian global.
Dalam pandangannya yang tajam namun penuh kelembutan, ia membedah makna di balik tema besar musyawarah kali ini. Akselerasi berkelanjutan bukan hanya sebuah slogan, melainkan kebutuhan mendesak untuk merespons dinamika zaman. Parigi Moutong, dengan segala anugerah alamnya mulai dari harum durian yang khas, biji kakao yang berlimpah, hingga kekayaan bahari dan hamparan kelapa, adalah permata yang menunggu sentuhan modernitas.
Faradiba bertekad dalan misinya , agar seluruh produk agro ini dikelola secara terstruktur, dan memiliki daya tawar tinggi di pasar internasional, sehingga mampu memberikan nilai tambah yang nyata bagi setiap tetes keringat masyarakatnya.
Langkah kaki KADIN di bawah kepemimpinan Faradiba memang telah lama diarahkan untuk menembus batas. Melalui penguatan jejaring investasi dan pembukaan akses pasar hingga ke mancanegara, ia berusaha memastikan bahwa identitas Parigi Moutong dikenal dunia melalui kualitas komoditasnya. Namun, di atas segala pencapaian global itu, Faradiba tetap berpijak pada bumi yang ia injak. Ia memberikan apresiasi tinggi terhadap kebijakan pemerintah daerah melalui semangat Gerbang Desa, sebuah gerakan yang menempatkan desa sebagai hulu dari segala kemandirian.
Bagi Faradiba, kemandirian ekonomi yang sejati tidak lahir dari gedung-gedung tinggi, melainkan tumbuh dari tanah desa, dari tangan-tangan terampil petani, dan dari kekuatan komoditas lokal yang dikelola dengan hati. Ia berharap agar kemitraan antara KADIN dan Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong terus mekar dan menguat, menciptakan sebuah tatanan daerah yang tidak hanya kompetitif di mata dunia, tetapi juga teduh dan sejahtera bagi seluruh rakyatnya. Di tangan dinginnya, komoditas lokal bukan lagi sekadar barang dagangan, melainkan harapan yang sedang dirajut menjadi kenyataan yang gemilang.
FAYRUZ










