PARIGI, EQUATORNEWS – Di bawah langit Parigi Moutong yang menyimpan ribuan riwayat kegelisahan warga sebuah langkah kecil namun bermakna besar terayun pasti menyisir lorong waktu. Wakapolres Parigi Moutong, Kompol Henry Burhanuddin, melangkah tegap melampaui formalitas jabatan demi memastikan bahwa napas layanan darurat Call Center 110 tidak pernah tersengal atau bahkan mati suri di saat masyarakat sedang dijemput nestapa.
Rabu pagi itu, (28/1/2026) menjadi saksi sebuah pengujian nyali terhadap sebuah sistem yang digadang menjadi pelita dalam kegelapan. Sang perwira tak hendak menjadi penonton di menara gading melainkan turun menyentuh mesin dan menyapa raga para operator yang menjadi ujung tombak keselamatan. Jemarinya menyisir perangkat dan telinganya menangkap frekuensi guna memastikan setiap kabel serta sinyal tetap setia mengabdi pada kepentingan publik yang tak kenal jeda.
Henry berucap dengan nada yang menggetarkan sanubari bahwa pintu pertama bagi warga yang terhimpit situasi genting adalah dering telepon ini. Beliau menegaskan bahwa keterlambatan sesaat saja dalam membuka pintu layanan tersebut sama saja dengan mengunci rapat kepercayaan rakyat yang telah lama dibangun. Baginya teknologi hanyalah raga namun kecepatan respons adalah jiwa yang menentukan hidup serta matinya sebuah pelayanan.
Suasana di ruang operator berubah khidmat saat sang perwira mengingatkan bahwa suara yang keluar dari balik gagang telepon adalah cermin wajah kepolisian di mata dunia. Tidak ada ruang bagi keraguan dan tak ada tempat bagi kelalaian karena setiap detik yang terbuang dapat berubah menjadi duka bagi mereka yang sedang menanti pertolongan. Operator dituntut menjadi muara solusi yang menyejukkan sekaligus jembatan kokoh menuju tindakan nyata di lapangan.
Polres Parigi Moutong melalui komitmen sang Wakapolres ingin menanamkan keyakinan di hati setiap warga bahwa saat jari menekan angka 110 maka negara sedang hadir memeluk kecemasan mereka. Di era yang serba cepat ini kepolisian dituntut bukan hanya perkasa di jalanan namun juga harus tangguh serta penuh empati di balik sambungan telepon darurat yang menghubungkan harapan dengan keselamatan.
FAYRUZ










