PARIGI, EQUATORNEWS – Di bawah langit Desa Buranga, Kecamatan Ampibabo, emas bukan lagi sekadar bongkahan logam mulia yang menjanjikan kemakmuran. Bagi para perempuan dan anak-anak di sana, ia telah menjelma menjadi kutukan yang mengeringkan sumur-sumur kehidupan dan mengeruhkan aliran sungai yang dulunya bening.
Sudah setahun lamanya, detak mesin tambang merobek kesunyian Buranga. Namun, seiring dengan lubang-lubang tanah yang semakin dalam digali, harapan warga akan air bersih kian terkubur.
Sumur yang Mati dan Sungai yang Berkhianat
Dalam sidang paripurna DPRD Kabupaten Parigi Moutong yang digelar Senin (12/1/2026), legislator Leli Pariani menyuarakan kepedihan yang selama ini tersumbat di tenggorokan warga. Ia memotret realitas pahit: sumur-sumur di dalam rumah warga kini tak lebih dari lubang tanah yang gersang.
”Sumur yang ada di dalam rumah warga sekarang mengering,” ujar Leli dengan nada bicara yang sarat penekanan.
Ketiadaan air tanah memaksa warga berpaling ke sungai. Namun, sungai yang menjadi tumpuan terakhir kini telah “berkhianat”. Alirannya tak lagi menyucikan, melainkan membawa limbah pekat hasil sisa aktivitas tambang.
Bagi kaum perempuan yang memikul beban domestik, kondisi ini adalah horor keseharian.
“Mereka berharap menggunakan air sungai untuk mandi, tapi sungai tersebut sudah tercemar limbah tambang,” tambah Leli. Ia memperingatkan bahwa jika pemerintah menutup mata, wabah penyakit kulit akan menjadi babak baru dari tragedi ini.
Antara Izin dan Penjarahan
Ironi Buranga semakin tajam ketika menilik status wilayahnya. Meskipun Kementerian ESDM telah menetapkannya sebagai Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) pada 2024 dengan tiga koperasi resmi yang mengantongi Izin Pertambangan Rakyat (IPR), kenyataan di lapangan jauh lebih kelam.
Praktik tambang ilegal tumbuh subur bak cendawan di musim hujan, berdiri berdampingan, bahkan berhimpitan dengan lokasi berizin. Para penjarah ini dilaporkan datang dari luar Kabupaten Parigi Moutong, mengeruk kekayaan bumi tanpa sedikit pun memikirkan napas kehidupan warga lokal.
Janji di Atas Podium
Menanggapi jeritan dari Buranga, Wakil Bupati Parigi Moutong, Abdul Sahid, berjanji tidak akan tinggal diam. Di hadapan forum, ia menegaskan akan segera menurunkan tim untuk membedah akar masalah di lapangan.
“Apa yang terjadi di sana, apakah disebabkan oleh pelaku tambang ilegal atau bagaimana. Insya Allah secepatnya kami akan turun dan berkoordinasi dengan dinas terkait,” tegasnya.
Kini, warga Buranga hanya bisa menunggu. Di tengah debu dan deru mesin, mereka menanti kembalinya air bening ke sumur-sumur mereka, sebuah kemewahan sederhana yang kini dirampas oleh kilau emas yang bersimbah limbah.
FAYRUZ










