PETI Kepung Tombi, Warga Hidup dalam Bayang Longsor

Fayruz
Muhammad Idrus - Foto : Ist

PARIGI, EQUATORNEWS –
Di kaki perbukitan Tombi, dentum mesin perlahan menggantikan suara alam. Tanah yang dahulu hijau kini menyimpan luka, sementara warga hidup dalam kecemasan yang kian menebal.

Satuan Tugas Penegakan Hukum Lingkungan (PHL) Kabupaten Parigi Moutong memperkirakan sedikitnya 12 unit alat berat telah beroperasi di lokasi pertambangan emas tanpa izin (PETI) di wilayah Tombi.

Aktivitas itu diduga kuat telah merambah kawasan hutan.
Sekretaris Satgas PHL, Muhammad Idrus, mengungkapkan informasi tersebut bersumber dari laporan masyarakat serta hasil pemantauan lapangan selama beberapa pekan terakhir.

Namun, pihaknya masih melakukan verifikasi titik koordinat untuk memastikan secara pasti apakah aktivitas itu benar-benar berada di kawasan hutan.

“Alat berat sudah naik sekitar 12 unit. Memang belum terlihat penarikan bucket ke atas, tapi indikasinya kuat ada aktivitas. Dari laporan masyarakat, kemungkinan benar masuk kawasan hutan,” ujar Idrus.

Ia menegaskan Satgas tidak tinggal diam. Koordinasi dengan aparat penegak hukum, termasuk Gakkum Kehutanan, telah dilakukan. Namun seluruh langkah penindakan sengaja digelar senyap.

“Ini sudah terjadwal, tapi tidak bisa dipublikasikan. Kalau diposting, dikhawatirkan operasi tidak berhasil. Jadi langkahnya memang dilakukan sembunyi-sembunyi,” katanya.

Menurut Idrus, salah satu kendala awal tahun ini adalah rotasi pejabat di sejumlah instansi terkait, mulai dari kepala KPH hingga unsur kejaksaan, yang membuat Satgas harus membangun ulang jalur koordinasi.

“Banyak pejabat yang pindah tugas. Nomor kontak juga belum semua masuk ke grup Satgas. Jadi koordinasi harus disusun ulang, tapi dengan APH yang membidangi sudah kami lakukan,” jelasnya.

Dalam waktu dekat, tim Satgas berencana melakukan penarikan bucket untuk memastikan titik koordinat pasti lokasi tambang ilegal tersebut.

“Satu dua hari ini kami akan tarik bucket untuk memastikan titik koordinat. Informasi aktivitas sudah masuk semua,” tutup Idrus.

Tambang Mendekap Rumah Warga
Kekhawatiran warga semakin nyata.

Aktivitas PETI di wilayah Kecamatan Ampibabo disebut berlangsung sangat dekat dengan permukiman.
Sumber resmi media ini menyebutkan, lalu-lalang alat berat terjadi hampir setiap hari, siang hingga malam. Getaran mesin mengguncang ketenangan kampung, sementara suara besi menggerus rasa aman.

“Lokasinya sangat dekat dengan rumah warga. Getaran dan suara mesin terdengar jelas, bahkan sampai malam hari,” ujar sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan, Jumat (13/2/2026).

Warga kini hidup dalam bayang-bayang longsor dan pencemaran air.

Beberapa titik galian disebut berada di area yang selama ini menjadi sumber air bersih masyarakat.

“Kami takut dampaknya bukan hanya sekarang, tapi juga jangka panjang,” katanya lirih.

Selain ancaman keselamatan dan lingkungan, keberadaan tambang ilegal ini juga dikhawatirkan memicu konflik sosial. Aktivitas ekonomi non-resmi yang masif, tanpa pengawasan, berpotensi membuka pintu bagi pelanggaran hukum lainnya.

Di Tombi, deru besi masih bergema. Dan hutan, yang seharusnya menjadi benteng kehidupan, kini menunggu kepastian: apakah hukum akan datang lebih cepat, atau kerusakan akan lebih dulu menuntaskan pekerjaannya.

FAYRUZ

Bagika Berita :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *