​Satgas PHL Kembali Intai Aktifitas PETI di Salubanga – Torono: Kala Denyut Keserakahan Mulai Merobek Bumi Sausu yang Terluka

Fayruz
Aktifitas PETI yang Diduga Berada di Desa Torono Kecamatan Sausu , Beberapa Waktu Lalu. Para Pelaku Aktifitas Haram itu Dilaporkan Mulai Mengambil Ancang ,- ancang untuk Memulai aksi Keserakahan Mereka - Foto ,: Ist

PARIGI, EQUATORNEWS – Di bawah naungan langit Songulara Mombangu, sebuah drama kelam kembali dipentaskan di atas tanah Parigi Moutong. Kesunyian rimbana di Desa Torono dan Salubanga kini tak lagi murni; ia mulai terkoyak oleh deru mesin dan ambisi buta para pemuja emas yang seakan tak kenal jera.

​Bukan sekadar desas-desus, geliat para perusak alam itu kini kian nyata. Di balik rimbunnya belantara Kecamatan Sausu, para penambang liar dilaporkan telah menyusun ancang-ancang, seolah sedang menabuh genderang perang melawan kelestarian alam. Bahkan, di saat embun belum sepenuhnya menguap, sebagian dari mereka telah mencuri start, menggerus pori-pori bumi demi segenggam mineral, membiarkan ekosistem yang rapuh kembali menjerit dalam kehancuran.

Asa di Balik Janji Penegakan Hukum

​Merespons jeritan alam yang kian menyayat, Sekretaris Satgas Penegakan Hukum Lingkungan (PHL) Kabupaten Parigi Moutong, Muhammad Idrus, angkat bicara. Melalui sambungan telepon pada Kamis, 26 Maret 2026, ia mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mematangkan langkah untuk membendung arus kerusakan ini.

  • Menanti Titik Terang: Satgas sedang menanti stabilitas anggaran operasional untuk kembali turun ke medan laga pada April ini.
  • Dinamika Lapangan: Idrus mengakui bahwa jika sebelumnya aktivitas di Torono sempat mereda di bulan suci, kini bayang-bayang alat berat kembali menghantui.
  • Konsolidasi Internal: Pihak Satgas juga akan melakukan pertemuan dengan personel baru untuk menyelaraskan persepsi sebelum melakukan peninjauan langsung.

Menanti Ketegasan di Ambang Hutan Lindung

​Tragedi ini menjadi kian dramatis karena bayang-bayang kehancuran itu mengintai tepat di jantung kawasan konservasi. Salubanga, sang benteng hijau, kini berada dalam ancaman maut dari tangan-tangan yang hanya mementingkan perut ketimbang masa depan anak cucu.

​Satgas PHL kini berada di persimpangan jalan, antara prosedur birokrasi dan desakan publik yang menginginkan tindakan nyata tanpa tapi. Bagi masyarakat Parigi Moutong, ini bukan sekadar urusan administrasi, melainkan pertarungan untuk menyelamatkan sisa-sisa napas bumi di wilayah selatan dari keserakahan yang tak berujung.

( FAYRUZ )

Bagika Berita :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *