PARIGI,EQUATORNEWS – Matahari pagi di ufuk Timur belum lagi meninggi ketika tawa renyah puluhan bocah memecah keheningan di Markas Komando Polres Parigi Moutong, Kamis (15/1/2026). Di bawah langit Januari yang cerah, sebuah fragmen kemanusiaan tersaji: bukan tentang deru sirine atau langkah tegap dalam ketegasan, melainkan tentang pelukan hangat seorang pelindung kepada generasi yang kelak mewarisi negeri.
Kapolres Parigi Moutong, AKBP Dr Hendrawan AN S.IK MH, bersama sang pendamping setia, Ny Bibit Hendrawan, berdiri di barisan terdepan. Mereka tidak hanya menyambut tamu, mereka sedang membuka pintu rumah bagi harapan-harapan kecil berbaju seragam TK Bhayangkari 03 Parigi.
Menghapus Sekat, Menanam Sahabat
Selama ini, seragam cokelat kepolisian seringkali dianggap sebagai simbol otoritas yang kaku. Namun pagi itu, stigma tersebut luruh di hadapan kepolosan. AKBP Hendrawan tampak menundukkan tubuhnya, menyetarakan pandangan mata dengan anak-anak didik yang antusias. Ada pesan tersirat yang ingin disampaikan: bahwa di balik lencana perak itu, detak jantung kepolisian adalah pengabdian yang tulus.
”Kami ingin anak-anak ini tumbuh dengan rasa aman di dada mereka. Polisi bukanlah sosok untuk ditakuti, melainkan sahabat yang memegang tangan mereka saat melangkah menuju masa depan,” tutur AKBP Dr Hendrawan dengan nada bicara yang rendah namun sarat wibawa.
Membasuh Karakter dengan Keteladanan
Kegiatan ini bukan sekadar seremoni kunjungan biasa. Di sela-sela interaksi yang jenaka, terselip edukasi tentang disiplin dan cinta tanah air. Ny Bibit Hendrawan, selaku Ketua Bhayangkari Cabang Parigi Moutong, memandang momen ini sebagai jembatan emas bagi anak-anak untuk mengenal dunia luar secara kontekstual.
”Wawasan mereka tidak boleh hanya sebatas dinding kelas. Di sini, mereka melihat langsung bagaimana dedikasi bekerja, bagaimana ketertiban dijaga,” ungkap Ny Bibit di tengah keriuhan anak-anak yang asyik menjelajahi lingkungan Mako.
Jejak yang Membekas
Kehadiran para Pejabat Utama (PJU) Polres Parigi Moutong kian menambah kedalaman makna acara tersebut. Mereka melepas sejenak beban tugas yang berat demi berbagi senyum dengan para penerus bangsa. Riuh rendah kegembiraan itu seolah menjadi oase di tengah rutinitas penegakan hukum yang padat.
Saat matahari mulai beranjak tepat di atas kepala, anak-anak itu pulang membawa lebih dari sekadar pengalaman. Mereka membawa memori bahwa di balik gerbang Mako Polres Parigi Moutong, ada sosok-sosok yang akan selalu menjaga mimpi mereka tetap utuh. Sebuah komitmen yang lebih kuat dari baja, dan lebih lembut dari belaian seorang ayah kepada anaknya.
FAYRUZ/*










