​”Menjemput Marwah di Tanah Tadulako, Kala Pemuda Kaili Menolak Lupa pada Akar Budaya”

Fayruz
Samsul Bahri, Ketua Harian FPKB - Foto : Ist

PARIGI, EQUATORNEWS — Di tengah deru modernisasi yang kian riuh membungkam sunyi, sebuah asa lahir dari rahim pemikiran kaum muda di bumi Parigi Moutong. Forum Pemuda Kaili Bangkit (FPKB) kini tengah merajut mimpi besar: memanggil pulang ruh kebudayaan yang mulai memudar melalui sebuah perhelatan seni dan budaya kolosal.
​Bukan tanpa alasan, eks lokasi Sail Tomini di Kecamatan Parigi Tengah dipilih sebagai panggung utama. Tempat yang menyimpan jejak sejarah itu direncanakan akan menjadi saksi bisu kebangkitan identitas lokal pada 28 Oktober mendatang, bertepatan dengan momentum Sumpah Pemuda.

​Menggugat Sunyi, Merawat Jati Diri

​Ketua Harian FPKB Parigi Moutong, Samsul Bahri, menatap nanar fenomena mulai terkikisnya ruang ekspresi bagi adat dan seni tradisional Kaili. Baginya, kegiatan ini bukan sekadar panggung tontonan, melainkan sebuah ritual “penyambung nyawa” bagi kearifan lokal yang kian terhimpit zaman.

​”Kami melihat ada ruang yang mulai hampa. Seni dan adat bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan nafas dan jati diri kita hari ini. FPKB ingin menghadirkan ruang inklusif di mana pemuda tak hanya menonton sejarah, tapi menjadi bagian dari sejarah itu sendiri,” ungkap Samsul dengan nada penuh penekanan, Senin (19/01/26).

​Mengetuk Pintu Tradisi di Ambang Oktober

​Wacana yang tengah dimatangkan ini ibarat benih yang sedang disemai. Samsul menegaskan bahwa FPKB akan melangkah dengan penuh takzim, mengetuk pintu pemerintah daerah, merunduk di hadapan tokoh adat, dan merangkul erat komunitas seni.
​Strategi lokasi di eks Sail Tomini bukan tanpa filosofi. Tempat itu dianggap sebagai titik temu strategis, sebuah muara di mana nilai historis dan denyut sosial masyarakat Parigi Tengah menyatu.

​Harmoni dalam Keberagaman

​Lebih dari sekadar festival, perhelatan ini dicanangkan sebagai “jembatan lintas generasi”. FPKB berkomitmen menjauhkan seni dari sekat-sekat perbedaan dan menjadikannya sebagai perekat sosial yang kokoh.

​“Kami ingin ini menjadi ruang silaturahmi yang teduh. Membangun tanpa menjatuhkan, merangkul tanpa membedakan. Kami rindu melihat generasi muda kembali bangga mengenakan identitasnya, bicara dengan bahasa kalbunya, dan menari di atas tanah leluhurnya,” pungkas Samsul.
​Kini, bola salju gagasan itu mulai menggelinding. Masyarakat Parigi Moutong menanti, akankah 28 Oktober nanti menjadi fajar baru bagi tegaknya marwah budaya Kaili di tengah terpaan gelombang globalisasi? Harapan itu kini bertumpu pada pundak para pemuda yang menolak lupa akan akar mereka.

FAYRUZ

Bagika Berita :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *