TORUE, EQUATORNEWS – Langit Desa Tolai mendadak riuh oleh getaran semesta saat ribuan pasang kaki menghentak bumi dalam sebuah ritme pengabdian. Kamis (18/3), aroma dupa yang luruh berbaur dengan semangat gotong royong menyambut fajar Tahun Baru Saka 1948. Di sana, di bawah saksikan ribuan pasang mata, barisan ogoh-ogoh berdiri angkuh sebagai representasi kegelapan yang siap dijinakkan oleh cahaya kesadaran.
Pawai ini bukan sekadar arak-arakan massa, melainkan sebuah simfoni budaya yang melukiskan wajah Parigi Moutong sebagai rahim bagi toleransi. Sosok-sosok raksasa dengan wajah menyeringai dan jemari mencengkeram udara diusung oleh para pemuda, melambangkan sifat buruk manusia atau Bhuta Kala yang harus dipurnakan sebelum memasuki gerbang keheningan Nyepi.
Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase, berdiri di antara kerumunan dengan tatapan penuh kebanggaan. Saat melepas rombongan, ia menegaskan bahwa getaran yang dirasakan hari ini adalah detak jantung persatuan.
”Momentum ini bukan hanya milik umat Hindu, tetapi menjadi bagian dari kekayaan budaya daerah yang memperkuat nilai toleransi dan persatuan di tengah keberagaman masyarakat Parigi Moutong,” tegas Bupati dalam orasi yang membakar semangat.
Manifesto Budaya di Eks Sail Tomini
Visi besar diletakkan di pundak masa depan. Melihat besarnya gairah seni dan spiritualitas masyarakat, Bupati mewacanakan transformasi besar: menyulap tradisi ini menjadi festival tahunan yang akan dipusatkan di eks lokasi Sail Tomini. Langkah ini dipandang sebagai upaya mengawinkan pelestarian akar tradisi dengan denyut ekonomi kreatif.
Pemerintah Daerah berkomitmen menjadikan festival ini sebagai ajang perlombaan megah. Generasi muda tidak hanya diajak memahat gabus dan bambu menjadi seni, tetapi juga memahat karakter bangsa yang menghargai keberagaman melalui kreativitas yang tanpa batas.
Harmoni dalam Kepungan Tradisi
Di sepanjang rute pawai, perbedaan identitas meleleh menjadi satu rasa kekaguman. Kehadiran tokoh-tokoh penting seperti Ketua DPRD Alfres Tonggiroh, Kapolres AKBP Hendrawan, hingga Sekda Zulfinasran, menjadi bukti nyata bahwa kepemimpinan daerah berdiri tegak di atas semua golongan.
Ketika matahari mulai condong ke ufuk barat, gemuruh ogoh-ogoh perlahan mereda, bersiap menuju ritual penyucian. Pesan yang tertinggal di aspal Tolai sangatlah jernih: bahwa di Kabupaten Parigi Moutong, perbedaan bukanlah sekat, melainkan benang-benang warna-warni yang menenun kain persaudaraan menjadi lebih kuat dan indah.
Selamat menyongsong Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Semoga keheningan esok membawa kedamaian yang abadi bagi seluruh jiwa di bumi khatulistiwa.
FAYRUZ










