PARIGI, EQUATORNEWS – Mentari Kamis siang itu menjadi saksi bisu atas sebuah narasi kemanusiaan yang terukir di sepanjang jalanan Parigi Utara. Di bawah langit yang menaungi Desa Avulua hingga keheningan Toboli Barat di jalur Kebun Kopi, aroma pengabdian tercium lebih harum daripada wangi tanah yang tersiram hujan. AKBP Dr Hendrawan AN S.IK MH, tidak sekadar datang dengan seragam kewibawaan, namun ia hadir membawa denyut empati yang nyata bagi rakyatnya.
Langkah kaki sang Kapolres, yang didampingi Ny Bibit Hendrawan serta jajaran perwira lainnya, menyisir setiap jengkal pemukiman warga sejak pukul 13.30 WITA. Di balik deru mesin kendaraan yang melintas di jalur trans, ada satu ton butiran beras yang berpindah tangan, menjadi penyambung asa bagi keluarga yang tengah khusyuk menjemput berkah di bulan suci Ramadan 1447 Hijriah.
Bagi sang pemimpin korps baju cokelat ini, bantuan tersebut bukanlah sekadar tumpukan karung putih kemasan lima kilogram. Ia adalah simbol kehadiran negara yang memeluk lara, sebuah representasi dari sosok pelindung yang tak hanya berdiri di balik meja, namun berani menyentuh debu jalanan demi memastikan perut rakyatnya tidak merintih di tengah khidmatnya ibadah.
Keamanan adalah napas, namun kepedulian adalah nyawa. Itulah pesan tersirat yang terpancar saat Hendrawan menegaskan bahwa tanggung jawab Polri melampaui batas penegakan hukum. Baginya, Ramadan dan Idul Fitri adalah momentum di mana kedamaian batin masyarakat harus berjalan selaras dengan stabilitas kamtibmas. Ia mengajak seluruh elemen warga untuk merajut sinergi, memastikan setiap sujud di malam hari dan setiap langkah mudik di siang terik senantiasa berada dalam lindungan kenyamanan.
Perjalanan itu pun bermuara di Simpang Tiga Desa Toboli. Di sana, di titik nadi transportasi Sulawesi, sang Kapolres menatap tajam setiap kesiapan pos pelayanan dan rest area. Ia memastikan bahwa setiap personelnya bukan sekadar berjaga, melainkan menjadi oase bagi para musafir yang kelelahan. Di bawah tatapannya yang teduh namun tegas, Polres Parigi Moutong meneguhkan janji: bahwa keamanan adalah sebuah kepastian, dan kemanusiaan adalah sebuah keabadian.
FAYRUZ










