Dari Badung, Cara Hestiwati Nanga Merajut Mimpi Besar Kerajinan Parigi Moutong

Fayruz
Hestiwati Nanga (tengah, berbaju merah) tampak serius berdiskusi dengan pengurus Dekranasda Provinsi Sulawesi Tengah saat melakukan kunjungan kerja ke Gedung Kerajinan Kabupaten Badung, Provinsi Bali, belum lama ini. Kunjungan tersebut fokus membahas penguatan kolaborasi lintas sektor dan peningkatan kualitas produk UMKM. - Foto: EquatorNews

PARIGI, EQUATORNEWS – Badung bukan sekadar destinasi. Di Kabupaten Badung, kerajinan telah menjelma ekosistem — ia hidup karena kolaborasi, tumbuh karena kualitas. Pelajaran mahal inilah yang dibawa pulang Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Parigi Moutong, Hestiwati Nanga, usai kunjungan kerja dan peninjauan langsung ke Kantor Dekranasda Kabupaten Badung, Provinsi Bali.

Penguatan kolaborasi dan peningkatan kualitas UMKM menjadi fokus utama kunjungan tersebut. Di sela wawancara, Hestiwati menegaskan pentingnya memperkuat kolaborasi lintas sektor serta meningkatkan kualitas produk kerajinan lokal agar mampu bersaing di kancah yang lebih luas. Ia mengaku banyak menyerap inspirasi dan poin-poin penting dari sistem pengelolaan serta strategi pengembangan ekonomi kreatif yang diterapkan di Kabupaten Badung.

Fokus utama kunjungan itu dirumuskan dalam tiga catatan kritis.

Pertama, kolaborasi dengan OPD dan sektor swasta. Hestiwati menyoroti pentingnya membangun sinergi yang efektif antara Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dengan pihak swasta, mencontoh pola kolaborasi yang telah berjalan baik di Bali seperti pelibatan pusat perbelanjaan dan toko swalayan modern — seperti Krisna Oleh-Oleh dan pusat perbelanjaan lainnya — dalam memasarkan produk-produk UMKM lokal.

Kedua, standar kualitas dan pengemasan (packaging). Menurut Hestiwati, penitipan produk UMKM lokal di pusat-pusat oleh-oleh harus diiringi dengan perhatian serius terhadap kualitas produk, desain kemasan yang menarik, serta kejelasan masa kedaluwarsa (expired date) dan aspek kehalalan produk. Tanpa itu, produk hanya akan menjadi pajangan.

Ketiga, peran aktif media. Peningkatan kolaborasi yang erat dengan media massa dinilai sangat krusial untuk memperluas jangkauan promosi produk UMKM melalui pemanfaatan platform digital dan media sosial secara aktif.

Lantas, bagaimana strategi memajukan pengrajin lokal di Parigi Moutong dengan jurang infrastruktur dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang cukup jauh dengan Badung?

Menanggapi perbandingan itu, Hestiwati berpesan agar para perajin dan pelaku usaha di daerahnya tidak pernah takut untuk bermimpi besar.

“Walaupun secara infrastruktur dan PAD kita berbeda jauh dengan Kabupaten Badung, insya Allah kunjungan ini menjadi motivasi dan semangat bagi kita sekalian, terutama bagi para perajin saat pulang nanti,” ujar Hestiwati.

Sebagai langkah konkret sepulangnya dari Bali, Dekranasda Parigi Moutong menyiapkan tiga agenda.

Pendataan dan pemetaan. Melakukan pendataan komprehensif terhadap potensi perajin lokal yang selama ini belum terdata dengan baik serta menggali ide-ide kreatif mereka.

Pelatihan dan pendampingan berkelanjutan. Memberikan perhatian nyata berupa program pelatihan keterampilan, pendampingan intensif, fasilitasi alat atau bantuan fasilitas, hingga evaluasi dan monitoring secara berkala.

Pemberdayaan ekonomi kreatif. Mengajak seluruh pemangku kepentingan, OPD terkait, serta asosiasi untuk bersama-sama mendongkrak semangat para perajin agar produk lokal Parigi Moutong mampu naik kelas dan sejajar dengan daerah lain.

Badung telah memberi contoh. Kini giliran Parigi Moutong menjahit mimpinya sendiri.

FAYRUZ

Bagika Berita :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *