PARIGI, EQUATORNEWS – Sehari setelah lumpuh total, urat nadi Sulawesi kembali berdenyut. Jalan Trans Sulawesi di Desa Peningka, Kecamatan Kasimbar, Kabupaten Parigi Moutong, kembali terhubung pada Sabtu siang, sekitar pukul 13.00 Wita, setelah sebuah jembatan darurat tipe Bailey selesai dipasang.
Jembatan itu bukan jembatan permanen. Ia adalah rangka baja darurat yang dipasang oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Tengah untuk menggantikan plat deker yang jebol diterjang banjir. Untuk hari ini, baja darurat adalah kata yang paling permanen. Ia menahan beban logistik dan harapan warga yang hendak melintas dari Palu menuju Gorontalo, Manado, hingga sebaliknya dari Makassar dan Poso.
Pantauan di lapangan, Sabtu siang, debu masih menggantung. Alat berat kuning masih siaga di sisi jalan. Aparat TNI dan petugas bersiaga mengatur arus. Sebuah sepeda motor menjadi salah satu yang pertama melintas perlahan di atas tanah timbunan yang masih basah. Tanda bahwa jalur vital itu kembali bergerak.
Plt. Kepala Pelaksana BPBD Parigi Moutong, Muhammad Rivai, membenarkan kabar tersebut. “Sejak kemarin, Sabtu siang, jalan di Peningka sudah mulai normal kembali setelah jembatan darurat selesai dipasang,” ujarnya.
Banjir Jumat, Empat Desa Terendam
Kembalinya Trans Sulawesi tak lepas dari luka sehari sebelumnya.
Pada Jumat dini hari, sekitar pukul 05.30 Wita, banjir menerjang Kecamatan Kasimbar setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah hulu semalaman. Sungai meluap, batas antara sungai dan pemukiman hilang.
Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Parigi Moutong, empat desa terdampak: Desa Labuan Donggulu meliputi Dusun I hingga IV, Desa Laemanta Dusun I, Desa Laemanta Utara Dusun I hingga IV, serta Desa Peningka.
Bukan hanya genangan. Yang paling melumpuhkan adalah putusnya Jalan Trans Sulawesi di perbatasan Desa Peningka dan Laemanta Induk, tepat di Volo Vatu Ra Donggulu. Material longsor – batu sebesar kerbau, tanah merah, batang kayu yang tercabut dari hulu – menimbun badan jalan dan menjebol plat deker.
Jalur yang menjadi urat nadi ekonomi Palu-Parigi itu terputus total. Jalur distribusi barang dari Makassar, Palu, Gorontalo ke Manado dan sebaliknya terhenti. Sejumlah pengendara bahkan terpaksa menginap di jalur Trans Sulawesi karena belum dapat melanjutkan perjalanan.
BPBD bersama TNI, Polri, aparat desa, dan BPJN Sulteng kemudian melakukan mobilisasi alat berat untuk membersihkan material dan membangun jembatan darurat pada Sabtu, 29 Agustus 2026.
Kini, setelah baja itu berdiri, antrean panjang itu perlahan terurai. Trans Sulawesi yang sempat menjadi jeda, kembali menjadi penghubung.
FAYRUZ










