PARIGI, EQUATORNEWS — Di bawah naungan langit Parigi Moutong yang kusam, aliran sungai yang mengeruh tak lagi mengalirkan kedamaian. Di antara Desa Baliara dan Desa Parigimpu’u, sebuah jembatan beton berdiri gundah, menanti detik demi detik kehancurannya. Struktur yang menjadi penyambung nafas warga di Kecamatan Parigi Barat itu kini layu, mengatupkan luka mendalam pada kakinya yang terancam lepas dari pijakan bumi.
Kondisi memprihatinkan mengepung bagian bawah struktur tersebut. Dinding sayap serta talud pelindung lereng tampak menggantung pasrah. Material tanah di bawahnya telah luruh ditelan derasnya arus sungai, menyisakan celah menganga selebar satu meter yang merayap hingga ke bawah ujung fondasi utama atau abutment.
Kepala Desa Baliara, Fadli Badja, menatap pilu benteng beton yang kian merana itu. Ia menyatakan bahwa bencana ini kian memuncak pasca banjir bandang yang menerjang beberapa waktu lalu. Arus liar tanpa ampun terus menerus mengikis fondasi pendukung yang tersisa. Jika dibiarkan bertambah parah, keretakan fatal hanya menunggu waktu untuk merobohkan seluruh akses vital tersebut.
Namun air bah bukanlah satu-satunya terdakwa dalam nestapa ini. Di balik gerusan alami sungai, terdapat luka buatan yang menganga tajam. Penambangan pasir dan batu atau galian C yang beroperasi tanpa henti di bagian hilir sungai diduga kuat menjadi pemicu utama hancurnya fondasi jembatan.
Aktivitas pengerukan material yang telah berlangsung lama di hilir telah merusak keseimbangan alami aliran sungai. Ketika perut sungai dikeruk habis, dasar air merosot dan menciptakan arus deras yang berbalik menghantam serta menggerus tanah di bawah abutment hulu. Kerakusan di hilir kini melahirkan ancaman roboh bagi warga di hulu.
Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah telah menerjunkan tim dan alat berat ke lokasi. Langkah awal dipusatkan pada normalisasi sungai untuk meredam amuk arus. Di saat yang sama, tebing di sekitar jembatan juga longsor dan memutus pipa penyalur air bersih.
Di antara deru mesin alat berat dan aliran air yang keruh, warga kini hanya bisa berharap agar pembenahan tidak sekadar menambal luka luar, tetapi juga menghentikan akar pengerukan yang perlahan membunuh ruang hidup mereka. FAYRUZ










