Sekitar pukul 14.30 Wita, Jumat, 11 September 2026, lahan perkebunan kelapa di Desa Lambunu Utara, Kecamatan Bolano Lambunu, Kabupaten Parigi Moutong, terbakar. Api melahap areal seluas kurang lebih satu hektare milik Suriyadi dan Pidu. Sekitar 20 pohon kelapa tumbang menjadi arang. Beruntung, tak ada jiwa yang jadi korban.
Kebakaran itu pertama kali dibaca oleh Ustahul Heri, 30 tahun. Ia datang ke kebun hendak mengecek buah kelapa milik Suriyadi. Yang ia temui bukan buah yang masak, melainkan kepulan asap yang mengepul dan suara retakan kayu yang terbakar — seperti rintih kebun yang sekarat.
Heri tak tinggal diam. Ia berlari kembali ke permukiman, mengabarkan bahaya kepada warga sekitar. Pukul 16.00 Wita, ia menghubungi Bhabinkamtibmas, Bripka Suparman. Laporan itu menjadi penanda dimulainya pacu dengan api.
Personel Polsek Bolano Lambunu bersama Bhabinkamtibmas segera bergerak menuju lokasi. Dengan peralatan seadanya — tangki semprot dan ranting-ranting basah — mereka bersama masyarakat menahan laju api. Jarak titik api ke permukiman warga hanya sekitar 700 meter. Jika terlambat sedikit saja, ceritanya bisa berbeda.
Pukul 17.30 Wita, bantuan tiba. Dua unit mobil pemadam dari Yonif TP 918/Mayangkara Mandiri dan satu unit Damkar Kecamatan Moutong menerobos masuk ke lokasi. Sinergi itu akhirnya mengunci api.
Pukul 18.00 Wita, semuanya berakhir. Api padam total. Situasi dinyatakan aman dan terkendali.
Pendataan di lapangan mencatat kekuatan pemadaman yang tidak kecil: 4 personel Polsek Bolano Lambunu, 3 personel Koramil 11/Moutong, 150 personel Yonif TP 918/MM, 8 personel Damkar Kecamatan Moutong, serta 20 warga Desa Lambunu Utara.
Kapolsek Bolano Lambunu, Iptu Nyoman Jayus Mulyawan, S.K.M., mengatakan kecepatan respons menjadi kunci. “Kami telah berkoordinasi dengan unsur pemadam kebakaran untuk mempercepat penanganan dan memastikan api benar-benar padam,” ujarnya.
Cuaca saat kejadian dilaporkan cerah dengan hembusan angin yang cukup kencang — cuaca yang kerap menjadi kawan bagi karhutla.
Kini, polisi mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran lahan, dan segera melapor jika menemukan titik api. Sebab di musim angin ini, satu percikan bisa berarti satu hektare hilang.
Kecepatan dan sinergi antara Polri, TNI, Damkar, dan masyarakat itulah yang mencegah bara di Lambunu Utara berubah menjadi bencana.
FAYRUZ
Sumber | Foto: Humas Polres Parigi Moutong










