PARIGI, EQUATORNEWS – Ketika matahari Agustus mulai menyengat tanah Parigi Moutong, aroma tanah kering dan desir angin panas seolah membawa bisikan ancaman yang saban tahun mengintai: murka api yang siap melahap hijau rimba. Mengantisipasi bara yang tak boleh menyala menjadi abu, halaman Mako Polres Parigi Moutong pada Selasa (11/8/2026) pagi bertransformasi menjadi panggung kesiapsiagaan. Di bawah langit yang kian membara, seragam-seragam ketat berbaris tegak, menyatu dalam ketegangan yang gaungnya memanggil kewaspadaan kolektif.
Langkah kaki Kapolres Parigi Moutong, AKBP Dr. Hendrawan Agustian Nugraha, bergema tegas saat ia memimpin Apel Gelar Pasukan dan Pengecekan Peralatan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Di hadapan jajaran Forkopimda, deretan bahu TNI-Polri, BPBD, hingga Satpol PP, ia berdiri membacakan amanat Kapolda Sulawesi Tengah—sesekar sabda peringatan bahaya yang tak boleh diabaikan. Bagi mereka, Karhutla bukan sekadar gulungan asap atau lidah api biasa, melainkan hantu ekologis yang mengancam urat nadi kehidupan, melumat flora dan fauna, hingga membekukan nadi perekonomian di tanah Khatulistiwa.
”Karhutla bukan sekadar musibah alam biasa, melainkan bencana ekologis yang sebagian besar dapat dipicu oleh cuaca ekstrem maupun faktor manusia,” ujar Hendrawan dengan suara berat yang membelah keheningan apel. Di matanya, helai-helai asap yang meluas adalah racun yang sanggup merenggut napas masyarakat serta melumpuhkan jalur-jalur kehidupan di darat, laut, maupun udara. Pencegahan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan benteng terakhir sebelum bumi parigi menjelma jelaga.
Dengan narasi tegas, ia merajut pesan sinergitas lintas batas. TNI, Polri, pemerintah daerah, hingga jelata yang bermukim di batas hutan dipanggil untuk berdiri dalam barisan yang sama. Edukasi dan sosialisasi ditiupkan bagai angin sejuk untuk memadamkan niat pembakaran lahan sebelum membesar menjadi bencana. “Jangan menunggu api membesar baru bergerak. Setiap potensi kebakaran harus segera ditangani,” tegasnya, menekankan bahwa kecepatan merespons titik api adalah napas utama dalam pertempuran melawan bencana ini.
Usai barisan dibubarkan, bunyi dentang besi dan desis mesin pendorong air membahana. Pengecekan peralatan dilakukan hingga ke celah terkecil; memastikan setiap selang, pompa, dan armada siap menderu tanpa cela jika sewaktu-waktu api memercik. Di atas tanah Parigi Moutong, tekad telah dipancangkan: menjaga hutan tetap bernapas dan memastikan langit mereka tetap biru tanpa ternoda racun asap Karhutla.
FAYRUZ










