PARIGI, EQUATORNEWS – Ada musim di mana pemerintah kabupaten mendadak ingat pada sampah.
Musim itu bernama Agustus. Ketika bendera-bendera merah putih dipesan, panggung tujuh belasan didirikan, dan instruksi turun dari lantai dua kantor bupati: bersih-bersih. Di Parigi Moutong, musim itu tiba lebih awal tahun ini.
Atas titah Bupati Erwin Burase, Dinas Lingkungan Hidup menggelar sebuah seremoni kebersihan yang diberi nama Lomba K3 – Keindahan, Kebersihan, Kerapian. Dalihnya: menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Sitti Maryam Tagunu, ketika ditemui di ruang kerjanya, berbicara dengan nada seorang kurator yang hendak menata ulang galeri. Baginya, lomba ini bukan sekadar ajang.
“Ini gerakan,” ujarnya. “Kita ingin melihat Parigi Moutong berdandan, bukan hanya untuk tamu 17 Agustus, tapi untuk dirinya sendiri.”
Nada yang sama, dengan oktaf berbeda, datang dari Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan dan Otonomi Daerah, Hamka Lagala. Ia tak berbasa-basi soal tujuan. “Agar Parigi Moutong jadi bersih,” katanya. Singkat, seperti sebuah perintah yang sudah terlalu lama ditunda.
Staf Ahli Bidang Lingkungan Hidup, Ibrahim Hafid, menambahkan kepingan mozaik itu. Menurutnya, kebersihan sebuah kabupaten seluas ini memang harus diawali dari sesuatu yang artifisial: sebuah perlombaan. Dari sanalah, katanya, kesadaran bisa dipanen.
Dan panggung lomba itu dibuka untuk semua. Dari murid-murid sekolah yang menyapu halaman, kepala-kepala OPD yang mengecat pagar kantor, instansi vertikal, BUMN, hingga ke pemerintahan terkecil: desa dan kelurahan.
Di atas kertas, ini adalah gotong royong total. Di balik kertas, ini adalah potret klasik pemerintah daerah: membersihkan muka ketika hendak berfoto. Pertanyaannya, yang mungkin tak terjawab dalam lomba ini, adalah apakah sapu itu akan tetap digenggam setelah panggung 17 Agustus dibongkar.
FAYRUZ










