Bainaa Barat: Ketika Negara Turun Dari Layar Zoom Dan Menapak Di Atas Jembatan

Fayruz
Sinergitas Di Bawah Tenda Merah Putih, Loreng, Khaki Dan Coklat Bhayangkara Berdiri Sejajar Di Bainaa Barat Untuk Mengawal Jembatan Yang Telah Berdiri Dan Air Yang Telah Mengalir. Foto: Humas Polres Parigi Moutong

PARIGI, EQUATORNEWS – Ada yang berbeda di Desa Bainaa Barat, Kecamatan Tinombo, Kamis (13/8/2026) siang itu. Di bawah tenda dengan atap merah putih, negara tidak lagi hadir dalam bentuk spanduk dan pidato dari jauh. Ia hadir dalam wujud yang bisa diinjak: sebuah jembatan. Dan dalam wujud yang bisa diminum: air bersih.

Pukul 11.00 WITA, Bainaa Barat menjadi salah satu titik dari 2.500 Jembatan Garuda Merah Putih dan 3.000 Titik Air Bersih yang diresmikan Presiden Republik Indonesia melalui Zoom Meeting. Di layar, Presiden meresmikan. Di lapangan, rakyat menyaksikan hasil.

Di barisan depan, sinergitas itu terlihat utuh. Pangdam XXIII Palakawira Mayjen TNI Jonathan Binsar Parluhutan Sianipar berdiri sejajar dengan Gubernur Sulawesi Tengah Dr. H. Anwar Hafid, M.Si., dan Kapolres Parigi Moutong AKBP Dr. Hendrawan A.N., S.I.K., M.H. Di samping mereka, Dandim 1306/KP Kolonel Inf. Yudi Hendro Prasetyo, Kajari, Sekda, Ketua Pengadilan, Plt. Kadis PUPR, Kapolsek Tinombo, para kepala desa, dan sekitar 200 warga Bainaa Barat yang datang bukan sebagai penonton, melainkan sebagai pemilik sah pembangunan itu.

Acara dibuka dengan Indonesia Raya, dilanjutkan doa, dan video yang merekam peluh pembangunan. Puncaknya, ketika Presiden dari balik layar menyapa berbagai pelosok negeri, termasuk sebuah desa di ujung Tinombo ini.

Seusai seremoni virtual usai, acara tak langsung bubar. Bingkisan diserahkan, foto bersama digelar di atas jembatan merah putih yang menjadi latar foto itu. Lalu yang paling penting terjadi: dialog. Pangdam dan Gubernur tidak segera kembali ke kendaraan dinas. Mereka tinggal, mendengarkan. Tentang jalan yang masih berlumpur saat hujan, tentang kebun yang sulit diakses, tentang air.

Karena di Bainaa Barat, makna jembatan melampaui bentang betonnya. Ia adalah jalan anak menuju sekolah, jalan petani menuju pasar, jalan yang memotong jauhnya jarak. Dan air bersih, ia bukan sekadar program. Ia adalah hidup.

Dari sebuah tenda di Tinombo, pelajaran itu kembali ditegaskan: pembangunan yang paling kokoh bukanlah yang tertinggi, melainkan yang paling dirasakan. Dan sinergitas TNI, Polri, dan pemerintah adalah tiang pancangnya.

FAYRUZ

Bagika Berita :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *