MOUTONG, EQUATORNEWS – Langit di atas Lapangan MA Yonif TP 918, Desa Labuan, Kecamatan Moutong, Sabtu, 19 September 2026, biru pucat dan menyengat. Pukul 10.00 WITA, angin laut membawa debu tipis yang beterbangan di antara barisan yang berdiri rapat. Di depan mereka, deretan motor trail hitam mengkilap berjejer menghadap laut, seperti pasukan kuda yang siap dilepas.
Kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Parigi Moutong bukan peristiwa asing. Setiap tahun, ketika kemarau memanjang, api selalu menemukan jalannya. Ia merayap di lahan kering Moutong, menjalar di semak Tinombo, meninggalkan bekas hangus yang butuh waktu lama untuk pulih. Warga sudah hafal polanya: lahan merekah, daun meranggas, lalu asap mulai mengepul dari kejauhan.
Karena itulah, apel siaga dan gelar pasukan serta peralatan yang digelar hari itu terasa berbeda. Ini bukan sekadar upacara formalitas. Ini adalah penanda bahwa pemerintah daerah membaca tanda-tanda alam dengan serius.
Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase, hadir langsung memimpin apel. Dengan kemeja biru muda, celana hitam, topi hitam dan kacamata hitam, ia berjalan perlahan memeriksa pasukan. Satu per satu ia lewati. Di sampingnya, ada perwira TNI AD dari Yonif TP 918 dengan baret hijau dan tongkat komando, ada Wakapolres dengan nama Felix di dadanya, ada personel BPBD dengan seragam oranye menyala yang sudah kenyang pengalaman memadamkan api di medan sulit, ada Satpol PP dengan seragam abu-abunya. Di belakang mereka, tenda hijau dan beberapa warga yang menyaksikan dari kejauhan.
Langkah Erwin Burase pelan namun tegas. Ia sesekali berhenti, menyalami personel, memastikan semua dalam posisi siap. Dari raut wajahnya terlihat jelas, ini adalah soal keseriusan.
Di hadapan pasukan itu, Bupati menyampaikan satu pesan yang diulanginya dengan nada tinggi: penanggulangan bencana tidak bisa dititipkan pada satu bahu saja.
“Penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab kita bersama. Pemerintah daerah, seluruh aparat, seluruh masyarakat terlibat bersama, bahu-membahu untuk mengantisipasi hal tersebut,” tegasnya, suaranya mengeras melawan angin pantai Labuan.
Erwin Burase juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini telah menunjukkan dedikasi dan kepedulian dalam upaya penanggulangan bencana di wilayah Kabupaten Parigi Moutong. Menurutnya, kekompakan yang terlihat di lapangan MA Yonif TP 918 hari itu adalah modal utama yang harus dijaga.
Ia menambahkan, pemerintah daerah tidak akan tinggal diam dan akan terus berada di tengah-tengah persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Pemerintah daerah akan bersama-sama, akan ikut membantu, saling mengisi hal-hal apa yang bisa kita lakukan, bisa kita bantu untuk bersama-sama menghadapi permasalahan yang ada, bukan hanya karhutla, tapi permasalahan lain yang ada di wilayah Kabupaten Parigi Moutong,” ujarnya.
Turut mendampingi Bupati dalam kegiatan tersebut, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Plt. Kepala Dinas Kominfo, Plt. Kasat Pol PP, Plt. Kepala Dinas PUPRP, serta jajaran lainnya dari pemerintah daerah dan unsur Forkopimda.
Apel siaga dan gelar pasukan serta peralatan ini menjadi momentum penting. Di tengah ancaman kekeringan yang mulai dirasakan dan potensi kebakaran hutan dan lahan yang terus meningkat, koordinasi dan kesiapsiagaan seluruh unsur diuji. Dari Labuan, pesan itu dikirimkan: Kabupaten Parigi Moutong dalam posisi siaga.
FAYRUZ/*










