PARIGI, EQUATORNEWS – Ada jarak yang harus diseberangi antara Parigi dan Jakarta. Bukan sekadar jarak geografis, melainkan jarak kebijakan dan harapan.
Pada Ahad, 07 September 2026, jarak itu coba didekatkan oleh Wakil Bupati Parigi Moutong, H. Abdul Sahid, S.Pd., M.Pd. Bersama rombongan, ia mengetuk pintu Direktorat Pupuk dan Pestisida, Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Bukan untuk membawa karung, melainkan untuk membawa gagasan. Konsultasi dan koordinasi, tentang bagaimana sektor pertanian Parigi Moutong dioptimalkan, tentang bagaimana regulasi dan tata kelola sarana produksi bisa lebih berpihak kepada petani di akar rumput.
Pertemuan berlangsung hangat, cair, dan penuh nostalgia. Rombongan diterima langsung oleh Direktur Pupuk dan Pestisida, Ditjen PSP Kementan RI, Nelson Metubun, S.P., M.P.
Nama Nelson bukan asing bagi orang Parigi. Ia adalah putra asli Parigi Moutong, anak tanah yang tumbuh dari ladang yang sama. Rekam jejaknya lekat dengan pertanian di daerah ini. Ia pernah mengabdi sebagai Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Parigi Moutong, kemudian dipercaya memimpin Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Tengah, sebelum akhirnya ditarik ke pusat sebagai Direktur Pupuk dan Pestisida Kementan RI.
Pertemuan dua putra daerah dengan dua peran berbeda itu melahirkan satu benang merah: memperkuat koordinasi antara Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong dan Kementerian Pertanian RI, khususnya dalam penataan dan optimalisasi akses sarana produksi pertanian.
“Kami terus berupaya membangun koordinasi dengan pemerintah pusat agar kebutuhan petani di Parigi Moutong, khususnya terkait pupuk bersubsidi dan pestisida, dapat terkelola dengan baik. Ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani,” ujar Wabup Abdul Sahid.
Jakarta menjadi cermin. Parigi berkaca di sana. Bukan soal berapa banyak yang dibawa pulang, tapi seberapa kuat jembatan koordinasi itu dibangun, agar kebijakan pusat benar-benar mengakar di tanah Parigi.
FAYRUZ/*










