CHENGDU, EQUATORNEWS – Durian dari lembah-lembah Parigi hingga pegunungan Sigi kini punya jalan tol menuju meja makan satu miliar penduduk Tiongkok.
Jalan itu dibuka di Distrik Qingbaijiang, Chengdu, pada 22 Juli 2026. Di sebuah ruangan perundingan yang dingin oleh pendingin udara, dua tanda tangan dibubuhkan. Di satu sisi, Qingdao Liuxi’er Brand Management Co., Ltd. Di sisi lain, sebuah nama dari Sulawesi Tengah: Asosiasi Perkebunan Durian Provinsi Sulawesi Tengah, yang diwakili ketuanya, Hengky Idrus.
Bukan sekadar jual-beli buah. Yang diteken adalah Perjanjian Kerja Sama Strategis berdurasi tiga tahun.
Isinya merentang dari hulu ke hilir. Pasal demi pasal perjanjian itu bercerita tentang ambisi yang lebih besar dari sekadar kontainer berpendingin.
Pertama, soal pasokan. Hengky Idrus mengikatkan kebun-kebun anggota asosiasinya untuk menjadi pemasok bahan baku yang berkelanjutan. Ia juga mengambil pekerjaan rumah yang tak ringan: mendorong kebun dan packing house di Sulteng agar lolos registrasi Administrasi Kepabeanan Tiongkok, China Customs. Syarat mutlak agar durian Sulteng tak tertahan di pelabuhan.
Kedua, soal mutu. Perjanjian ini menuntut penyelarasan standar yang ketat. Klasifikasi, uji kualitas, hingga sistem ketertelusuran yang nyaris seperti sidik jari. Salah satu klausul menyebut sistem satu produk satu kode – one item one code. Setiap buah bisa dilacak dari pohon tempat ia jatuh hingga ke rak supermarket di Qingdao.
Ketiga, soal merek. Di sinilah Qingdao Liuxi’er memainkan perannya. Dengan jaringan pemasaran dan manajemen merek yang mereka miliki, durian Sulteng akan dipoles citranya. Tidak lagi dijual sebagai buah curah tanpa nama, melainkan sebagai produk dengan identitas geografis yang jelas: dari Sulawesi Tengah. Opsi joint branding dan joint marketing pun dibuka lebar dalam perjanjian turunan nanti.
Mekanismenya pun diatur ritual tahunan. Berbagi informasi pasar, kunjungan timbal balik, dan sebelum kalender tutup setiap tahun, kedua pihak akan kembali duduk bermusyawarah menentukan target volume, sasaran mutu, dan rencana promosi untuk tahun berikutnya.
Perjanjian dibuat dalam dua bahasa, Mandarin dan Inggris, dengan naskah Mandarin sebagai penafsir akhir jika terjadi silang sengketa. Jika musyawarah buntu, Chengdu Arbitration Commission akan menjadi hakim final.
Bagi Hengky Idrus, ini adalah babak baru. Durian Sulteng selama ini tumbuh liar dalam percakapan ekspor, namun tersendat di urusan registrasi dan merek. Kini, dengan pintu Qingbaijiang yang terbuka, buah berduri itu tak lagi sekadar legenda lokal. Ia telah punya “paspor”.
FAYRUZ










