Ikhtiar Sry Nirwanti Menenun Asa Wastra Sulteng di Ujung Kain Donggala

Fayruz
Menenun Harapan: Ketua Dekranasda Sulawesi Tengah, Sry Nirwanti Bahasoan (kiri), memegang erat sebuah sarung tenun Donggala berwarna cerah di tengah kemeriahan acara. Jalinan benang sarung ini seakan merangkai kearifan purba dan keindahan yang abadi, membawa asa para perajin lokal untuk menembus batas zaman. ​Foto: Istimewa

MAKASSAR, EQUATORNEWS – Di bawah langit Makassar yang bersepuh senja, sehelai kain Tenun Donggala terbentang bukan sekadar sebagai sandang. Lembar demi lembar benangnya seperti sedang meriwayatkan kisah tentang ketekunan yang sunyi, tentang jemari para perempuan di pesisir Sulawesi Tengah yang menjalin sabar menjadi sepotong keindahan.

​Pada Jumat (10/7), keindahan yang sarat akan kearifan purba itu dibawa ke tengah gelanggang. Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Sulawesi Tengah, Sry Nirwanti Bahasoan, hadir pada Perayaan Puncak Hari Ulang Tahun (HUT) Dekranas ke-46 di Makassar dengan sebungkah misi: merawat ingatan sekaligus memperpanjang napas ekonomi para perajin lokal.

​Perayaan ini tak sekadar menjadi ritus tahunan yang bising oleh selebrasi. Bagi Sulawesi Tengah, ruang ini adalah panggung pembuktian bahwa kriya, aksesori, fesyen, dan produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mereka bukan sekadar komoditas, melainkan perpanjangan dari identitas yang menolak luruh digerus zaman.

​Sry Nirwanti Bahasoan menegaskan, kehadiran mereka di tanah Daeng adalah ikhtiar untuk melintasi batas-batas geografis. Keikutsertaan ini adalah jembatan kolaborasi, ruang bertukar gagasan, sekaligus pintu gerbang bagi perluasan pasar yang selama ini kerap sunyi dari sentuhan industri besar.

​“Melalui momentum ini, kami ingin memperkenalkan kekayaan kriya Sulawesi Tengah kepada masyarakat yang lebih luas. Tenun Donggala dan berbagai produk kerajinan lokal merupakan hasil kreativitas serta kearifan budaya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus identitas daerah,” ujar Sry Nirwanti, dengan nada bicara yang optimistis namun tetap membumi.

​Ia menaruh harap agar wastra dan kriya dari bumi Tadulako ini tidak hanya menjadi penghuni etalase yang beku, melainkan mampu merambah pasar yang lebih riuh dan luas. Di balik keindahan motif kain tersebut, tersimpan komitmen Dekranasda Sulawesi Tengah yang tak boleh putus: mendampingi perajin dari hulu ke hilir. Mulai dari pembinaan yang telaten, pemutakhiran desain tanpa kehilangan roh tradisi, hingga membuka jalan-jalan baru di rimba pemasaran modern.

​Malam puncak itu pada akhirnya menjadi sebuah altar apresiasi bagi kreativitas yang lahir dari sudut-sudut Nusantara. Di tengah gempuran modernitas yang serba instan, denyut nadi industri kerajinan nasional justru ditenun kembali lewat semangat kolaborasi yang berkelanjutan—sebuah simfoni kerja keras yang digerakkan oleh tangan-tangan yang menolak menyerah pada waktu.

FAYRUZ

Bagika Berita :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *