Dua Sisi Koin Musprov KADIN Sulteng : Wasit yang Dituding Merangkap Pemain

Fayruz
Ketua SC Musprov KADIN Sulteng 2026, Zulfakar Nasir (berdiri).- Foto : Istimewa

PALU, EQUATORNEWS – Riuh rendah menjelang Musyawarah Provinsi (Musprov) Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Sulawesi Tengah periode 2026–2031 mendadak berubah menjadi panggung drama penuh syak prasangka. Hembusan angin miring menerpa jantung kepanitiaan, menyeret nama Ketua Steering Committee (SC), Zulfakar Nasir, ke pusaran kontroversi. Ia dituding menanggalkan jubah netralitasnya sebagai pengadil, lalu menjelma menjadi “ketua kelas” sekaligus eksekutor di bayang-bayang demi melanggengkan takhta petahana, Nur Rahmatu.

​Desas-desus berhembus kencang dari bilik-bilik hotel di Palu, tempat para pemilik suara (voters) dari berbagai daerah mulai merapatkan barisan. Kabar yang beredar menyebutkan, suasana menjelang kontestasi ini mulai diselimuti kabut intimidasi politik yang pekat. Tak sekadar tekanan psikologis, pelukan persuasi berupa iming-iming jabatan, janji manis kemudahan bisnis, hingga tebaran lembaran rupiah diduga menjadi peluru utama untuk menjinakkan suara para ketua KADIN di tingkat kabupaten agar tetap setia berdiri di belakang Nur Rahmatu.

​Suasana kian memanas ketika sebuah rekaman suara bocor dan menggelinding liar di jejaring internal organisasi. Dalam rekaman itu, suara yang diduga kuat milik Zulfakar Nasir terdengar mengarahkan sejumlah voters untuk segera merapat ke dalam “karantina” di Hotel Rama Palu, sebuah skenario isolasi yang disebut-sebut didanai langsung oleh sang kandidat petahana.

​Bagi sebagian kalangan, arahan karantina ini laksana petir di siang bolong. Perintah tersebut dinilai menabrak batas etika kepatutan, mengingat keluar dari mulut seorang yang seharusnya menjadi penjaga gawang keadilan Musprov. Netralitas panitia pelaksana kini berada di titik nadir, memicu keraguan mendalam atas legitimasi proses suksesi rumah besar para pengusaha tersebut.

​”SC itu harus menjadi wasit yang adil, bukan ikut menendang bola ke gawang lawan. Jika benteng pertahanan aturan ini sudah jebol oleh keberpihakan, maka kita sedang menyaksikan kematian demokrasi di tubuh KADIN,” bisik seorang sumber internal yang menolak identitasnya dipahat di media, karena alasan keamanan politik organisasi.

Zulfakar Menepis Badai Tudingan

​Namun, di tengah badai tudingan yang merongrong integritasnya, Zulfakar Nasir enggan tinggal diam dan menjadi sasaran empuk. Saat dihubungi melalui sambungan telepon, nadanya meninggi, membentengi diri dari segala peluru spekulasi. Dengan tegas, ia menepis semua tuduhan miring yang dialamatkan kepadanya.

​Menurut Zulfakar, apa yang ditudingkan sebagai gerilya politik sejatinya hanyalah komunikasi teknis yang sah-sah saja dilakukan oleh seorang ketua panitia pengarah demi memastikan kelancaran logistik dan kenyamanan para peserta.

​”Sebagai SC, sangat wajar jika saya berkomunikasi dengan peserta terkait urusan akomodasi dan kesiapan acara. Tidak ada yang salah dengan itu,” cetus Zulfakar dengan nada masygul.

​Ia pun menyayangkan sikap sejumlah pihak yang dinilainya sengaja menggoreng isu ini di ruang publik tanpa menakar fakta secara jernih. Zulfakar mengecam kemunculan opini-opini sepihak di media yang terkesan buru-buru menghakiminya tanpa lewat proses tabayun, sebuah tindakan yang menurutnya telah mengangkangi pilar utama jurnalisme yang berimbang (cover both side).

​Kini, di bawah bayang-bayang ketegangan yang kian meruncing, publik dan para pelaku usaha di Bumi Tadulako hanya bisa menanti dengan cemas: apakah Musprov KADIN Sulteng kali ini akan melahirkan pemimpin yang legitimate lewat proses yang bersih, ataukah ia justru runtuh menjadi sekadar panggung sandiwara yang dimenangkan oleh sang sutradara di balik layar?

FAYRUZ

Bagika Berita :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *