“Bukan Bupati, Bukan Pejabat, Faradiba Zaenong Justru Berdiri di Tengah Mereka”
PALU, EQUATORNEWS – Di tengah riuh tepuk tangan dan kilatan kamera pada peluncuran “Volcano Durian Indonesia” di Palu, satu sosok berdiri tenang di antara barisan elite: gubernur, para bupati, dan pemangku kebijakan. Namanya tiba-tiba menjadi perbincangan, Faradiba Zaenong. Bukan pejabat publik. Bukan pula kepala daerah. Namun ia hadir sejajar, dan bahkan disebut langsung oleh Anwar Hafid sebagai “Pejuang Durian.”
Panggung Besar, Nama yang Menguat dari Akar
Momentum itu bukan sekadar seremoni peluncuran brand nasional. “Volcano Durian Indonesia” adalah simbol baru, ambisi besar menjadikan Indonesia pemain utama durian dunia, berangkat dari tanah vulkanik Sulawesi Tengah yang subur dan kaya mineral. Di panggung itu, Faradiba berdiri bersama seluruh kepala daerah se-Sulteng. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya foto bersama. Namun bagi yang memahami konteksnya, itu adalah penegasan posisi baru: pelaku usaha lokal kini duduk setara dalam arsitektur ekonomi daerah.
Siapa Faradiba Zaenong?
Nama Faradiba tidak lahir dari ruang kosong. Ia adalah Ketua KADIN Parigi Moutong, organisasi yang dalam beberapa tahun terakhir bergerak agresif mendorong transformasi ekonomi berbasis komoditas lokal, terutama durian. Namun yang membedakannya bukan jabatan. Melainkan narasi perjuangannya. Saat banyak daerah masih melihat durian sebagai hasil kebun tradisional, Faradiba melihatnya sebagai: Komoditas ekspor bernilai tinggi, mesin penggerak ekonomi desa, dan identitas baru daerah. Dalam berbagai forum, ia konsisten mendorong hilirisasi durian, dari kebun, ke packing house, hingga ekspor. Bahkan ekspor durian beku ke Tiongkok disebut sebagai simbol kebangkitan ekonomi Parigi Moutong. Ia tidak hanya berbicara, ia menggerakkan.
Dari Kebun ke Geopolitik Ekonomi
Durian kini bukan lagi buah musiman. Ia telah naik kelas menjadi komoditas strategis. Dalam konteks global, negara seperti Thailand dan Malaysia sudah lebih dulu menguasai pasar. Indonesia, meski kaya varietas, tertinggal karena tidak memiliki identitas tunggal. Di sinilah “Volcano Durian Indonesia” hadir: sebuah gerakan untuk menyatukan ratusan varietas di bawah satu nama besar. Dan Faradiba adalah salah satu motor dari gerakan itu di level daerah. Ia bahkan mengajak seluruh pelaku usaha menggunakan identitas tersebut sebagai simbol kolektif untuk menembus pasar dunia.
Mengapa Disebut “Pejuang Durian”?
Julukan itu bukan tanpa alasan. Faradiba berada di garis depan dalam: Mendorong ekspor langsung tanpa transit, menghubungkan petani dengan industri, menekan pemerintah agar membuat regulasi khusus durian, dan membangun ekosistem dari hulu ke hilir. Ia bukan sekadar pengusaha. Ia adalah arsitek ekosistem. Dan di mata gubernur, itu adalah bentuk perjuangan, bukan dengan senjata, tetapi dengan visi ekonomi.
Parigi Moutong: Dari Daerah ke Panggung Dunia
Kabupaten Parigi Moutong kini tidak lagi hanya dikenal sebagai daerah agraris biasa. Ia sedang didorong menjadi: Sentra produksi durian, basis ekspor internasional, dan episentrum “durianisasi” Sulawesi Tengah. Di balik itu, ada kerja sunyi: penguatan petani, pembangunan fasilitas, hingga diplomasi pasar. Dan di titik inilah, kehadiran Faradiba di panggung bersama gubernur bukan lagi sesuatu yang “tiba-tiba”. Itu adalah puncak dari proses panjang yang jarang terlihat.
Antara Simbol dan Realitas
Foto bersama itu mungkin akan hilang ditelan timeline. Namun maknanya jauh lebih dalam. Ia menandai pergeseran penting: Bahwa masa depan daerah tidak lagi hanya ditentukan oleh birokrasi, tetapi oleh kolaborasi antara negara dan pelaku usaha. Dan dalam lanskap itu, Faradiba Zaenong telah menjelma dari sosok lokal menjadi simbol gerakan ekonomi baru.
Perempuan di Balik Aroma Durian
Di tanah yang dikenal keras namun subur, seorang perempuan memilih jalan yang tidak populer, mengangkat durian, buah yang sering diremehkan, menjadi senjata ekonomi. Hari ini, ia berdiri di panggung bersama para pemimpin. Bukan karena kekuasaan. Tetapi karena ketekunan yang berbuah pengaruh. Dan mungkin, di masa depan, ketika dunia menyebut “durian Indonesia”, nama itu akan selalu memiliki jejak: Faradiba Zaenong, Pejuang Durian dari Parigi Moutong.
FAYRUZ










