Ikhtiar AKBP Hendrawan Merawat Nyala Pancasila di Bumi Songulara Mombangu

Fayruz
Kapolres Parigi Moutong, AKBP DR Hendrawan Agustian Nugraha S.IK MH - Foto : Humas Polres Parigi Moutong

PARIGI, EQUATORNEWS – Matahari baru saja memanjat langit Parigi Moutong ketika barisan bhayangkara berdiri tegak menantang angin pagi. Di halaman Markas Kepolisian Resor Parigi Moutong, Senin, satu Juni dua ribu dua puluh enam, sebuah ritus kebangsaan digelar bukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban kalender. Di sana, di bawah kibaran merah putih yang berkecamuk di udara, Hari Lahir Pancasila dirayakan sebagai sebuah sumpah setia yang menolak punah.

​Upacara yang khidmat itu dipimpin langsung oleh Kepala Polres Parigi Moutong, Ajun Komisaris Besar Polisi Doktor Hendrawan. Di hadapan barisan peleton staf, satuan samapta, polisi perairan, hingga jajaran reserse kriminal yang berdiri mematung penuh takzim, ia berdiri membawa amanat yang melampaui sekat-sekat ruang upacara. Ada getar yang tegas saat pidato Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila dibacakan, menggemakan tema besar tahun ini: Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia.

​Bagi mereka yang berkumpul di tanah Parigi, Pancasila bukan sekadar susunan teks usang di buku sejarah. Ia adalah jangkar yang menahan kapal besar bernama Indonesia agar tidak karam dihantam ombak intoleransi dan badai radikalisme. Di tengah dunia yang kian rapuh oleh konflik global, lima sila itu kembali disuarakan sebagai kompas moral, sebuah landasan diplomasi yang bebas, aktif, dan mendamaikan.

​Usai prosesi yang sakral tersebut, AKBP Hendrawan menegaskan kembali posisi Polri sebagai benteng terakhir penjaga keberagaman. Ia menolak menganggap peringatan ini sebagai seremonial belaka yang menguap begitu matahari meninggi.

​Menurutnya, Pancasila adalah fondasi utama Negara Kesatuan Republik Indonesia yang harus terus dijaga dan diamalkan oleh seluruh anak bangsa. Sebagai anggota Polri, mereka memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi teladan dalam menjaga persatuan, menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, serta memberikan pelayanan yang adil kepada masyarakat tanpa membedakan suku, agama, ras, maupun golongan.

​Di bawah langit Parigi yang perlahan mulai terik, pesan itu terlempar ke udara, menguji nurani setiap personel yang hadir. Kapolres mengajak seluruh anggotanya dan segenap lapisan masyarakat untuk membumikan pancasila dalam setiap jengkal perbuatan sehari-hari.

​Ia menutup pesannya dengan ajakan untuk memperkuat semangat gotong royong dan mempererat persaudaraan. Keamanan dan ketertiban harus dijaga demi mewujudkan Parigi Moutong yang aman, damai, dan harmonis. Pancasila, lanjutnya, harus terus hidup dalam setiap sikap, perilaku, dan pengabdian kepada bangsa dan negara.

​Ketika barisan dibubarkan, keheningan upacara berganti dengan deru aktivitas, namun ada esensi yang tertinggal di tanah lapang itu. Sebuah komitmen telah dipahat kuat, bahwa di tempat ini, radikalisme tidak akan diberi ruang untuk tumbuh, dan persatuan adalah harga mati yang dirawat dengan segenap jiwa. FAYRUZ

Bagika Berita :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *