Dari Parigi Ke Gowa: Jejak Farahdina Ilhami Putri, Satu-Satunya Harapan Parigi Moutong Di Kampus Polbangtan KEMENTAN RI

Fayruz
Farahdina Ilhami Putri - Foto : Istimewa

PARIGI, EQUATORNEWS – Satu nama itu kini menggema di lorong-lorong SMA Negeri 1 Parigi. Farahdina Ilhami Putri. Ia bukan sekadar lulus. Ia menaklukkan dua jalur sekaligus, menembus gerbang Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa di saat tujuh nama lain dari Parigi Moutong gugur di medan seleksi.

Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru Polbangtan Gowa, Sabtu 4 Juli 2026, merilis nama-nama yang berhak menyandang almamater hijau Kementerian Pertanian. Di antara ratusan nama, di nomor urut 87, tertera jelas: Farahdina Ilhami Putri. Alumni IPA SMA Negri 1 Parigi, itu resmi menjadi satu-satunya anak Parigi Moutong yang lolos untuk Prodi D4 Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan, Tahun Akademik 2026/2027.

Jalan yang ditempuh Farah tidak tunggal. Ia melampaui seleksi jalur umum sekaligus jalur undangan anak petani gelombang 2. Delapan putra-putri terbaik Moutong bertarung. Hanya satu yang bertahan. Kemenangan yang senyap, tapi menghentak.

Farah, atau begitu ia biasa disapa, bukan perempuan yang asing dengan kompetisi. Sebelum namanya tercantum di Polbangtan Gowa, gadis kelahiran 8 Juli 2008 itu telah lebih dulu mengantongi kursi di Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah, Universitas Tadulako Palu, lewat jalur pendaftaran umum. Namun takdir, rupanya, menuntunnya ke tanah Gowa, ke kampus yang digadang menjadi kawah candradimuka penyuluh masa depan.

Ia bukan anak yang lahir dari menara gading. Farah adalah anak kedua dari seorang kuli tinta. Tangan yang membesarkannya terbiasa bergumul dengan kata, dengan berita, dengan realitas yang tak selalu ramah. Kini, tangan itu pula yang melepas anaknya merantau, membawa nama Parigi Moutong ke panggung yang lebih luas.

Di Polbangtan Gowa nanti, Farah tidak sendiri membawa panji Sulawesi Tengah. Ia akan berdiri sejajar dengan tiga pejuang lain dari Kabupaten Sigi dan Toli-Toli. Mereka berempat adalah duta. Wajah-wajah muda yang dikirim dari Teluk Tomini, dari lembah-lembah Palu, untuk belajar tentang tanah, tentang benih, tentang masa depan pangan negeri.

Lolosnya Farah adalah sebuah cerita tentang ketekunan yang tidak gaduh. Tentang seorang anak daerah yang memilih jalan sunyi penyuluhan, di saat yang lain mengejar gemerlap kota. Dari Parigi, ia berangkat. Bukan untuk kembali sebagai orang yang sama.

FAYRUZ

Bagika Berita :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *