Polsubsektor Mepanga Menjaga Ruang Kelas dari Badai Perundungan dan Candu

Fayruz
MENANAM DISIPLIN: Jajaran Polsubsektor Mepanga, Parigi Moutong, melakukan sosialisasi anti-perundungan (bullying), ketertiban lalu lintas, dan bahaya narkoba di hadapan puluhan murid sekolah dasar di Desa Moubang, Kecamatan Mepanga, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Senin (13/7/2026). Kegiatan ini bertujuan menanamkan karakter disiplin, sadar hukum, dan kepedulian terhadap sesama sejak usia dini di lingkungan pendidikan. [Foto: Humas Polres Parigi Moutong]

MEPANGA, EQUATORNEWS – Riuh rendah suara anak-anak mendadak senyap begitu terompet upacara ditiup. Di bawah langit pagi Desa Moubang yang masih bersih, ratusan pasang mata bocah sekolah dasar berdiri takzim. Di hadapan mereka, berdiri seorang pria berseragam cokelat bhayangkara yang sengaja datang membawa misi besar: menanam benih hukum di ladang jiwa yang masih suci.

​Senin, 13 Juli 2026, jarum jam baru menunjuk pukul 07.00 Wita ketika Kepala Kepolisian Subsektor Mepanga, IPDA Yayang Luki E., melangkah tegap menuju mimbar upacara SD Inpres 1 Mensung, Kecamatan Mepanga, Kabupaten Parigi Moutong. Kehadirannya hari itu bukan sekadar formalitas birokrasi, melainkan sebuah ikhtiar membentengi generasi paling bungsu dari badai sosial yang kian mencemaskan.

​Begitu ritual pengibaran bendera usai, halaman sekolah seketika menjelma ruang dialektika yang hangat. IPDA Yayang menepis jarak. Di hadapan anak-anak yang masih berbau minyak telon, ia membedah realitas yang kerap mengintai ruang kelas dan jalanan: perundungan, jerat narkoba, hingga kebiasaan ugal-ugalan di jalan raya.

​”Membangun kesadaran hukum tidak cukup dilakukan ketika seseorang telah dewasa. Nilai-nilai disiplin, kepatuhan terhadap aturan, kepedulian terhadap sesama, serta budaya tertib berlalu lintas harus ditanamkan sejak usia sekolah,” ujar Yayang di hadapan tatapan polos para siswa.

​Narasinya mengalir tanpa pretensi menggurui. Yayang menekankan bahwa sekat-sekat kehancuran masa depan sering kali dimulai dari hal kecil, seperti ejekan antarteman yang berubah menjadi perundungan, atau rasa penasaran yang berujung pada candu narkotika. Di sisi lain, ia juga menyoroti pentingnya etika berlalu lintas, mencoba menanamkan kesadaran sejak dini agar kelak mereka tak menjadi angka dalam statistik kecelakaan di jalanan.

​Bagi Polsubsektor Mepanga, anak-anak ini adalah miniatur masa depan bangsa. Jika fondasi moral mereka fragile, maka runtuhlah bangunan peradaban di masa depan. Lewat dialog interaktif, para guru dan murid larut dalam diskusi yang hidup. Isu-isu berat disederhanakan agar mampu meresap ke dalam ingatan masa kecil mereka.

​”Kami ingin anak-anak tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, menjauhi bullying dan narkoba, serta mampu menjadi pelopor keselamatan dan agen perubahan positif di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Polri akan terus hadir melalui kegiatan edukasi sebagai wujud komitmen menciptakan generasi emas Indonesia yang cerdas, berakhlak, dan taat hukum,” pungkas Yayang, menutup khotbah kemanusiaannya pagi itu.

​Matahari mulai meninggi di atas bumi Parigi Moutong, namun riak dari pesan-pesan tertib hukum itu diharapkan terus bergulir di dada anak-anak Moubang—menjadi jangkar yang kuat saat mereka dilepas ke dunia yang lebih luas.

FAYRUZ

Bagika Berita :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *