PALU, EQUATORNEWS – Juli di Teluk Palu selalu punya cara untuk berdebar. Tahun ini, debar itu bernama Festival Rakyat Nusantara 2026. Selama tujuh hari, 14–20 Juli 2026, Lapangan Immanuel tak akan sekadar lapangan. Ia akan menjelma panggung besar tempat tawa, peluh, transaksi, dan doa bertemu.
Di kursi nakhoda, berdiri Faradiba Zaenong. Ia Ketua KADIN Parigi Moutong, dan kali ini mendapat mandat penuh dari Ketua KADIN Sulawesi Tengah, Gufran Ahmad, untuk memimpin kepanitiaan. Kepercayaan itu bukan datang dari ruang kosong. Di Parigi Moutong, nama Faradiba lekat dengan kerja-kerja merangkul: UMKM didorong naik kelas, komunitas diajak bicara, anak muda diberi ruang. Gufran melihat itu. Maka tongkat estafet pun diserahkan.
“Festival ini bukan keramaian yang lewat begitu saja,” kata Faradiba, tenang. “Kami ingin meninggalkan bekas. Bekasnya di meja makan UMKM, di panggung seniman, di lapangan tempat anak-anak berlarian, di tenda donor darah yang menyelamatkan nyawa.”
Festival Rakyat Nusantara 2026 lahir dari tangan yang bergandengan: Kodam XXIII/Palaka Wira, KADIN Provinsi Sulawesi Tengah, dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Tiga institusi, satu niat: membuka ruang temu yang meriah sekaligus berdampak. Sebab bagi Faradiba, persatuan tak cukup diucapkan. Ia harus dirasakan,lewat kerja bersama, lewat ekonomi yang bergerak, lewat budaya yang dirayakan.
Maka daftar acaranya pun panjang, sengaja dirajut agar semua kalangan menemukan tempat. Ada Pasar UMKM dan Festival Kuliner Nusantara, tempat rasa dari berbagai penjuru negeri bertemu di satu hamparan. Ada Nonton Bola Gembira 2026, tempat sorak-sorai melebur tanpa sekat. Panggung hiburan dan seni budaya akan hidup tiap malam, bergantian menabuh marwah Tadulako.
Badan pun diajak bergerak: lomba senam kreasi, dero kreasi, performance line dance, lomba domino, karaoke solo vocal, hingga Zumba Party yang memompa semangat. Di sisi lain, sisi kemanusiaan tak dilupakan. Donor darah dan cek kesehatan gratis dibuka untuk siapa saja. Mata yang jeli dipersilakan mengabadikan semuanya lewat Lomba Dokumentasi Fotografi dan Video Festival Rakyat Nusantara 2026. Dan seperti gula yang menutup hidangan, beragam doorprize telah disiapkan untuk menambah riuh.
Bagi Faradiba, mandat dari Gufran Ahmad adalah amanah yang harus dijawab dengan angka dan cerita. Angka: omzet UMKM yang naik, kunjungan yang ramai, perputaran ekonomi yang terasa. Cerita: anak muda yang tampil percaya diri di panggung, komunitas yang menemukan jejaring, keluarga yang pulang membawa kenangan.
“Kami tidak ingin festival ini hanya dikenang sebagai panggung besar,” ujarnya lagi. “Kami ingin ia dikenang sebagai titik: titik temu, titik tumbuh, titik balik bagi banyak orang.”
Ia tahu, pekerjaan panitia adalah pekerjaan sunyi di balik gemerlap. Mengurus izin, menata lapak, memastikan listrik menyala, panggung tak rubuh, pengunjung pulang selamat. Tapi justru di situlah keyakinannya tumbuh: bahwa perayaan yang baik adalah perayaan yang rapi, aman, dan memberi ruang pada yang kecil untuk tampil.
Karena itu, ia mengulang ajakan yang sama, kepada siapa saja yang merasa Sulawesi Tengah adalah rumah. “Datanglah ke Lapangan Immanuel. Bawa keluarga. Dukung produk lokal. Tertawalah, menarilah, berdonorlah jika bisa. Mari kita jahit kegembiraan bersama. Biar persatuan ini tak hanya jadi kata, tapi jadi kerja. Biar daerah kita melangkah, tidak sendiri-sendiri, tapi bersama.”
Pada 14 Juli nanti, ketika senja pertama jatuh di atas Lapangan Immanuel, Festival Rakyat Nusantara 2026 akan dibuka. Dan di antara riuh itu, akan ada perempuan dari Parigi Moutong yang memastikan semua berjalan: Faradiba Zaenong. Bukan untuk namanya sendiri, katanya, tapi untuk keyakinan bahwa dari Palu, gaung kebersamaan bisa terdengar sampai ke ujung Sulawesi Tengah.
FAYRUZ










