Sosial  

Langkah Getir Bupati Erwin Menatap Retakan Sausu

Fayruz
Kunjungan Bupati Erwin Burase ke Warga Terdampak Gempa di Kecamatan Torue - Foto : Diskominfo

PARIGI, EQUATORNEWS – Langit di atas Teluk Tomini belum sepenuhnya benderang ketika deru mobil rombongan itu membelah sunyi. Di dalam kabin, paras-paras tegang menatap keluar jendela, memandangi tiang-tiang listrik yang beberapa jam lalu bergoyang hebat layaknya ilalang dihempas angin buritan. Gempa bermagnitudo 6,7 yang berpusat di perut bumi Sulawesi Tengah telah berlalu, namun sisa kecemasannya masih menggelayut di udara.

​Rabu (17/6) siang, Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase, berjalan melintasi puing-puing yang berserakan di tanah. Di sisinya, Wakil Bupati, Ketua DPRD, dan Kepala Kejaksaan Negeri berjalan dalam ritme yang sama. Mereka menyusuri tiga titik luka yang ditinggalkan gempa: Desa Boyantongo di Parigi Selatan, lalu bergeser ke timur menuju Desa Torue dan Desa Tolai di Kecamatan Torue.

​Di tempat-tempat ini, rumah tak lagi sepenuhnya menjadi perlindungan. Dinding-dinding batako retak membentuk sulur-sulur mengerikan, sementara atap seng melorot menyentuh tanah. Di bawah langit yang tak menentu, sehamparan tikar digelar, selimut-selimut dibagikan, dan paket pangan diulurkan dari tangan ke tangan. Sebuah ikhtiar kecil untuk meredam ngilu di dada warga yang mendadak kehilangan rasa aman.

​”Kabupaten Parigi Moutong berdiri di atas wilayah yang rawan. Kita dilalui Sesar Sausu, sebuah patahan aktif yang menjadikannya rapuh sekaligus menuntut kita untuk selalu karib dengan kesiapsiagaan,” kata Erwin di sela-seli peninjauan.

​Suaranya tenang, namun ada nada getir yang tak mampu disembunyikan. Ia sadar, gempa susulan adalah hantu yang sewaktu-waktu bisa kembali mengetuk pintu rumah warga. Oleh karena itu, langkah pendataan segera digeber demi memetakan seberapa dalam luka fisik bangunan yang runtuh.

​Di balik layar penanganan pascabencana, Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong kini tengah memutar otak. Dana Belanja Tidak Terduga (BTT) segera dicairkan lewat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk menyokong napas dapur umum dan posko kesehatan.

​Hingga malam turun dan embun mulai membasahi tenda-tenda darurat, sinergi antara birokrat, aparat TNI-Polri, hingga tenaga kesehatan di lapangan masih terus berdenyut. Di pesisir Parigi, mereka berjaga, memastikan bahwa di tengah guncangan tanah, harapan warga tidak ikut runtuh. FAYRUZ

Bagika Berita :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *