MOUTONG, EQUATORNEWS – Tanah Moutong Timur kembali menelan duka. Di bawah remang cahaya malam yang sunyi, bumi Tagena seolah meminta tumbal saat dinding tanah di Desa Salepae runtuh tanpa peringatan. Seorang pejuang nafkah bernama Isran, atau yang akrab disapa Isi, harus mengembuskan napas terakhir setelah terkubur hidup hidup dalam dekapan material tambang yang ia gali sendiri.
Tragedi memilukan ini terjadi pada Minggu dini hari, di mana keheningan malam berubah menjadi horor bagi para penambang manual. Isran, pria paruh baya berusia 50 tahun asal Desa Lobu, kala itu sedang bergelut dengan tanah dan harapan. Bersama rekan rekannya, ia berupaya mengumpulkan pundi pundi material tanah ke dalam karung untuk kemudian diolah menjadi butiran emas. Namun, takdir berkata lain saat tebing tanah di dekat area PT Kemilau Nusantara Katulistiwa itu kehilangan pijakan dan luruh menimpa tubuhnya.
Kapolsek Moutong, AKP Felix Saudale, saat dikonfirmasi awak media melalui ponselnya mengungkapkan, bahwa insiden tersebut terjadi di antara pukul 01.00 hingga 02.00 Wita. Mantan Kasat Reskrim Polres Parigi Moutong ini menjelaskan, bahwa korban sedang bekerja keras di dalam lubang galian saat musibah datang menjemput. Menurut Felix, nyawa Isran tidak tertolong akibat beratnya timbunan tanah yang menghimpit tubuhnya, sementara seorang rekan korban berhasil menyelamatkan diri dari maut yang nyaris merenggut nyawa keduanya.
Lokasi kejadian di kawasan Tagena memang telah lama menjadi tumpuan hidup bagi masyarakat lokal yang mengandalkan tenaga manual. Di sana, tidak ada raungan mesin atau alat berat yang membelah bumi. Sejauh mata memandang, hanya terlihat sisa sisa perjuangan tradisional: galian tanah, tumpukan karung, dan aliran sungai tempat para penambang mendulang harapan.
Pihak kepolisian telah melakukan olah tempat kejadian perkara dan memastikan bahwa aktivitas di sana murni dilakukan secara konvensional. Meski pencarian emas secara manual ini sudah berlangsung lama, risiko besar selalu mengintai di balik setiap jengkal tanah yang digali. Kini, kepergian Isran menjadi pengingat pahit bagi warga di Kabupaten Parigi Moutong akan bahaya yang selalu mengancam di balik kilau logam mulia.
Aparat penegak hukum masih terus mendalami kronologi pasti melalui keterangan saksi selamat, sembari melayangkan imbauan keras agar warga lebih waspada. Bagi keluarga yang ditinggalkan, kepergian Isran bukan sekadar angka dalam laporan kepolisian, melainkan luka mendalam dari seorang lelaki yang gugur demi menyambung hidup di atas tanah kelahirannya sendiri.
FAYRUZ










