Menjemput Sejarah yang Hilang: Erwin Burase Siap Hidupkan Kembali Ruh Lapangan Toraranga Menjadi Altar Suci dan Nadi Kuliner Parigi

Fayruz
Bupati Parigi Moutong, H. Erwin Burase (Foto : Ist)

​PARIGI, EQUATORNEWS — Ada denyut sejarah yang seolah terpasung di jantung Kota Parigi. Taman Toraranga, yang kini bersolek sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH), dinilai mulai kehilangan taji dan jiwanya. Seiring waktu berjalan, ruang hijau tersebut dianggap mati suri, sunyi dari fungsi yang mendalam dan kurang bertaji dalam memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.

​Menyikapi ruang publik yang kian meredup itu, Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase, membulatkan tekad untuk memutar kembali jarum jam sejarah. Sebuah rencana besar dicanangkan: merobohkan sekat sekat estetika semu RTH dan mengembalikan Toraranga ke khitah aslinya sebagai lapangan terbuka yang megah.

​Kelak, di atas hamparan tanah bersejarah itu, gema takbir akan kembali membubung ke angkasa, menyatukan ribuan saf warga Kota Parigi dalam kekhusyukan Shalat Ied yang sempat hilang dari sana.

​Namun, Toraranga masa depan bukanlah masa lalu yang usang. Erwin Burase ingin meniupkan ruh baru di dalamnya. Selain menjadi altar suci tempat bersujud di hari kemenangan, kawasan ini akan disulap menjadi pusat wisata kuliner. Langkah ini diambil demi memantik kembali urat nadi perekonomian lokal dan menghidupkan malam malam Parigi dengan geliat UMKM yang dinamis.

​”Ini bukan sekadar merombak fisik, melainkan memulihkan memori kolektif dan marwah sebuah kota.” Ujar mantan anggota DPRD Provinsi Sulteng selama enam priode itu, belum lama ini.

​Jauh sebelum Parigi Moutong mekar berdiri sebagai kabupaten mandiri, Lapangan Toraranga adalah episentrum kehidupan. Di sanalah peluh para pesepak bola lokal menetes ke bumi, dan di sana pula rindu spiritualitas warga Parigi bertaut setiap Idul Fitri dan Idul Adha tiba. Toraranga adalah saksi bisu dari sebuah kebersamaan yang kokoh.

​Kendati visi besar ini telah terpeta, Bupati Erwin Burase memilih tidak gegabah menepuk dada. Baginya, suara rakyat adalah jembatan terbaik menuju perubahan. Langkah dramatis ini tidak akan dieksekusi sebelum ada restu dari garis leluhur dan tokoh tokoh kunci daerah.

​”Rencana besar ini, baik mengembalikan fungsi suci Lapangan Toraranga maupun membangun pusat kuliner, masih akan kami diskusikan dan komunikasikan secara mendalam bersama para tokoh masyarakat, tokoh agama, dan segenap elemen di Parigi,” tegas Erwin Burase.

​Kini, nasib Toraranga sedang berada di persimpangan jalan dialog. Masyarakat Parigi menanti dengan harap cemas: mampukah tanah bersejarah itu kembali menjadi rumah bagi lantunan doa sekaligus motor penggerak kesejahteraan warganya? Waktu yang akan menjawab.

FAYRUZ

Bagika Berita :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *