Di bawah panji Asta Cita, bulir-bulir jagung ditanam sebagai ikhtiar melawan sunyi lahan telantar dan merajut kedaulatan pangan dari beranda Parigi Moutong.
PARIGI, EQUATORNEWS Matahari belum lagi tinggi menanjak ketika sekelompok manusia berkumpul di tepian batas Desa Lobu Mandiri, Kecamatan Parigi Barat. Di tanah yang sekian lama didera sepi, terbengkalai sebagai lahan tidur yang meranggas, sebuah ritus kecil namun mendalam sedang digelorakan. Markas Cabang Laskar Merah Putih Kabupaten Parigi Moutong datang bukan dengan kibaran bendera yang pongah, melainkan dengan telapak tangan yang terbuka, membawa ribuan harapan dalam wujud bulir-bulir bibit jagung, Kamis, 4 Juni 2026. Ini adalah sebuah upaya membebat luka bumi yang telantar, sekaligus menyalakan api kehidupan di atas tanah yang lama tertidur.
Gerakan ini bukanlah sekadar seremoni penyerahan bantuan yang beku. Ia adalah manifesto kebudayaan bertani yang berdenyut selaras dengan visi besar Asta Cita yang didengungkan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Di tengah kecemasan global akan bayang-bayang krisis pangan, Laskar Merah Putih Parigi Moutong memilih turun ke palung-palung desa, menyapa para petani yang jemarinya akrab dengan lumpur, demi merajut kembali kedaulatan pangan yang mandiri dan berwibawa.
Langkah kaki para pengurus organisasi siang itu terasa takzim. Hadir di sana Ketua Dewan Pertimbangan Markas Cabang Laskar Merah Putih Kabupaten Parigi Moutong Iwan Muhtar, sang Ketua Markas Cabang Fadli Arifin Azis, Sekretaris Bobi Monareh, Bendahara Jumasrah Saad, hingga Kepala Staf Zulfikar Zamardi. Mereka berdiri bersisian dengan para petani, bhabinkamtibmas, serta sekelompok mahasiswa PPL yang membawa idealisme muda. Di sana, sekat-sekat sosial melebur menjadi satu tekad: menghidupkan kembali hamparan hijau di Parigi Barat, Kecamatan Parigi, hingga pelosok-pelosok daerah yang selama ini terabaikan.
”Kehadiran kami di tanah Parigi Moutong ini bukanlah untuk menjadi menara gading yang sunyi. Kami ingin ketukan tangan kami, keringat kami, dan perjuangan ini benar-benar dirasakan sebagai berkah oleh mereka yang setia memeluk bumi, yaitu para petani dan pekebun kita,” ujar Fadli Arifin Azis, dengan nada suara yang bergetar penuh penegasan.
Bagi Fadli, hamparan tanah yang luas di Parigi Moutong adalah kanvas raksasa yang belum selesai dilukis. Kehadiran program strategis nasional seperti Makan Bergizi Gratis adalah pasar yang nyata, sebuah hilir yang menanti hulu. Sektor pertanian hari ini bukan lagi ladang kesunyian. Ia adalah panggung ekonomi baru yang sangat menjanjikan. Pasar telah dibentangkan di depan mata, yang kita butuhkan sekarang hanyalah keberanian untuk memulai, kemauan untuk menyentuh kembali tanah-tanah yang telantar, dan menjadikannya sumber kehidupan, tambahnya dengan nada puitis.
Laskar Merah Putih memosisikan diri sebagai pemantik, sebuah pemicu yang membangunkan kesadaran kolektif masyarakat. Di bawah langit Sulawesi Tengah yang teduh, mereka menaruh harapan bahwa dari setiap biji jagung yang terbenam ke dalam tanah hari ini, akan lahir kemakmuran yang berlimpah di masa depan. Sebuah ikhtiar untuk mengubah tanah mati menjadi lumbung yang berdenyut.
Rasa haru tak mampu disembunyikan oleh Ilo, salah seorang petani yang menerima bantuan tersebut. Dengan guratan wajah yang menyimpan kisah perjuangan cuaca, ia menerima bantuan itu bagai tetesan embun di musim kering. Kami berterima kasih sedalam-dalamnya kepada Laskar Merah Putih. Bantuan bibit ini laksana tiupan angin segar di awal musim tanam kami. Di saat lahan-lahan kami merindukan benih, mereka datang membawa jawaban. Kami berharap sinergi ini tak lekang oleh waktu, ucap Ilo, lirih namun penuh keyakinan.
Melalui untaian aksi nyata ini, Laskar Merah Putih Parigi Moutong tidak hanya sedang menanam jagung, mereka sedang menanam masa depan. Sebuah kolaborasi yang elok antara organisasi kemasyarakatan, aparatur keamanan, akademisi, dan petani akar rumput demi satu tujuan suci: memastikan tak ada lagi sejengkal tanah pun yang menangis karena diabaikan, dan memastikan perut bangsa ini tetap terpenuhi oleh hasil keringat rakyatnya sendiri. FAYRUZ










