PARIGI, EQUATORNEWS – Kekuasaan biasanya diuji dengan kritik. Di Parigi Moutong, ia diuji dengan urine. Sebuah pembuktian yang telanjang, tanpa podium dan tanpa naskah.
Kamis siang, 23 Juli 2026. Di ruang kerja yang biasanya dipenuhi peta kekuasaan, Bupati Parigi Moutong H. Erwin Burase tidak duduk di balik meja jabatannya. Ia berdiri. Di hadapannya, seorang petugas BNN bersarung tangan putih membungkuk memeriksa, sementara Kasatpol PP dan pejabat lain menyaksikan dalam diam.
Pemandangan itu adalah penutup dari peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2026 yang digelar daring. Seremoni yang seringkali berhenti pada kata-kata, kali ini dipaksa melampaui kata-kata. Bupati, Wakil Bupati H. Abdul Sahid, dan Sekda Zulfinasran meminta untuk diperiksa secara terbuka dan sukarela.
Kepala BNN Kabupaten Poso yang membawahi Parigi Moutong, AKBP Praditya Mahyana, menyebutnya sebagai teladan langka. “Ini adalah contoh nyata yang patut ditiru oleh seluruh bawahan dan ASN. Tidak ada ruang untuk keraguan di mana hanya bawahan yang diperiksa, sementara pimpinan tidak. Hasilnya alhamdulillah bersih,” ujarnya.
Pemeriksaan berjalan dengan protokol ketat. Keaslian sampel dipantau langsung untuk menghindari segala bentuk kecurangan. Komitmen ini bukan aksi panggung sehari, melainkan bagian dari program empat hari berturut-turut sejak 20 hingga 23 Juli, yang akan dilanjutkan dengan asesmen mendalam oleh dokter asesor.
Parigi Moutong sedang mengirim pesan yang lebih nyaring dari sekadar pidato anti-narkoba: birokrasi tidak bisa meminta kepercayaan publik dengan tangan yang kotor. Ia harus mencuci tangannya sendiri terlebih dahulu, di depan publik.
FAYRUZ










