SIGI, EQUATORNEWS – Pekan lalu, bumi di Sigi tak sekadar berguncang. Ia seolah patah, menyisakan retakan-retakan kecemasan yang menjalar hingga ke sudut-sudut beranda rumah warga. Di Desa Kamarora, Kecamatan Nokilalaki, sisa-sisa gempa bermagnitudo 6,7 yang menggeliat pada Selasa, 16 Juni lalu, masih menyisakan trauma yang bergelayut di wajah-wajah muram para pengungsi.
Namun pada Minggu, 22 Juni 2026, keheningan di kaki bukit itu sedikit terurai. Langkah kaki Longki Djanggola, Anggota Komisi II DPR RI sekaligus mantan Gubernur Sulawesi Tengah dua periode (2011–2021), hadir membawa riak harapan. Tidak sekadar datang sebagai pejabat formal, Ketua DPD Partai Gerindra Sulteng itu datang membawa pelipur lara berupa ribuan paket kebutuhan pokok.
”Bantuan ini beras, minyak goreng, telur, hingga terpal adalah ikhtiar kecil untuk memastikan dapur warga tetap mengepul dan mereka memiliki peneduh di masa-masa sulit ini,” ujar Longki di sela-sela penyerahan bantuan.
Di bawah langit Sigi yang masih menyimpan mendung, Longki tak sekadar melempar seremonial. Ia berjalan menyusuri reruntuhan, menyentuh dinding-dinding rumah ibadah yang retak, dan mendengarkan keluh kesah warga yang rumahnya kini tak lagi utuh. Baginya, Sigi, Palu, Donggala, dan Parigi Moutong adalah fragmen ingatan yang tak terpisahkan dari pengabdian panjangnya di tanah Sulawesi.
Dalam jenggulan kemanusiaan ini, Longki tidak berjalan sendirian. Ia didampingi oleh barisan koleganya: Ketua SATRIA Sulteng Irwan Lapatta, Ketua GEKIRA Sulteng Jemmy Langelo, serta sejumlah legislator dari DPRD Provinsi dan Kabupaten Sigi. Kehadiran mereka seolah menegaskan bahwa politik, di titik paling ekstremnya, harus kembali pada urusan perut dan ketenangan jiwa rakyat yang sedang terguncang.
Kabupaten Sigi memang kembali menjadi episentrum nestapa. Kerusakan fasilitas publik dan rumah warga memaksa sebagian masyarakat memeluk dinginnya tenda pengungsian. Di sinilah, menurut Longki, solidaritas organik harus diuji. Ia mengetuk pintu hati semua elemen—pemerintah, swasta, hingga komunitas warga—untuk tidak membiarkan Sigi berjalan sendirian di lorong pemulihan yang panjang.
”Semoga bantuan yang tidak seberapa ini bisa meringankan pundak bapak dan ibu sekalian. Kita tidak boleh kalah oleh bencana. Kita harus bangkit bersama,” ucap Longki, menyeka peluh, mengalirkan keyakinan di tengah puing-puing Kamarora yang perlahan mencoba tegak kembali.
FAYRUZ










