Parigi Moutong, EQUATORNEWS – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Parigi Moutong secara resmi menggelar Kegiatan Konsolidasi Tahun 2026. Pertemuan strategis ini memfokuskan arah kebijakan pada transformasi layanan pendidikan dan penguatan tata kelola sekolah sebagai langkah nyata mempercepat peningkatan mutu pendidikan demi mewujudkan Parigi Moutong yang maju, mandiri, dan berdaya saing.
Kegiatan yang mengusung tema “Transformasi Layanan Pendidikan dan Kebudayaan melalui Gerbang Desa Menuju Parigi Moutong Maju, Mandiri, dan Berdaya Saing” ini menghasilkan sejumlah rekomendasi dan poin strategis. Mulai dari digitalisasi administrasi, pembenahan sistem manajemen, hingga penanganan isu sosial seperti angka putus sekolah.
Dalam upaya mempermudah urusan kepegawaian, Disdikbud berkomitmen meningkatkan layanan aplikasi Si Kelor. Selain itu, sistem penyegaran kepemimpinan di sekolah juga akan dibenahi melalui penataan rotasi dan promosi kepala sekolah yang murni berbasis pada kinerja.
Terkait penganggaran, seluruh satuan pendidikan kini diwajibkan menyusun Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) yang mengacu pada data Rapor Pendidikan. Langkah ini diambil agar pemanfaatan anggaran sekolah ke depan menjadi lebih tepat sasaran, transparan, dan terukur. Dinas terkait juga menegaskan akan memperkuat koordinasi pemenuhan hak dan pembayaran honor bagi PPPK paruh waktu.
Untuk mempercepat pencapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) pendidikan, sekolah-sekolah didorong untuk menerapkan pola pilot project dan sister school. Strategi ini diharapkan mampu mendongkrak kualitas pembelajaran, dengan fokus utama pada penguatan kemampuan literasi dan numerasi siswa.
Peningkatan kompetensi guru juga tidak luput dari pembahasan. Para tenaga pendidik diarahkan untuk aktif mengikuti pelatihan serta melakukan refleksi pembelajaran berbasis asesmen. Sejalan dengan hal tersebut, metode evaluasi atau penyusunan soal ujian sekolah kini dituntut lebih objektif dan adaptif terhadap kemampuan riil siswa.
Di sisi lain, menyambut Tahun Ajaran 2026/2027, Pemerintah Daerah menegaskan bahwa Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) wajib dilaksanakan secara online, kecuali bagi wilayah-wilayah khusus yang masih terkendala keterbatasan akses internet.
Salah satu poin krusial yang menjadi sorotan tajam dalam konsolidasi ini adalah masih tingginya angka putus sekolah di Kabupaten Parigi Moutong. Disdikbud menegaskan bahwa penuntasan masalah ini tidak bisa bertumpu pada satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi masif antara pemerintah, pihak sekolah, lingkungan keluarga, hingga masyarakat luas.
Selain mengejar capaian akademik, sekolah juga diinstruksikan untuk membangun karakter dan kreativitas gen-z di Parigi Moutong. Langkah konkret yang diambil meliputi Implementasi Program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) untuk mengasah bakat seni, Penerapan Tujuh Kebiasaan Indonesia Hebat untuk penguatan karakter moral dan Maksimasi penggunaan Papan Interaktif Digital (PID) di kelas-kelas sebagai simbol modernisasi pembelajaran.
Melalui konsolidasi matang ini, Disdikbud Parigi Moutong optimistis bahwa transformasi yang berjalan tidak sekadar mengubah sistem di atas kertas, tetapi benar-benar mampu menghadirkan layanan pendidikan yang adaptif, inklusif, merata, serta menjawab kebutuhan nyata masyarakat di tingkat tapak.










