Di hadapan ratusan abdi negara, Wakil Bupati Abdul Sahid menggebrak kebiasaan menunda pekerjaan dengan ancaman evaluasi berkala BKD serta sapuan tes urine massal tanpa kompromi.
PARIGI, EQUATORNEWS – Di bawah langit fajar yang merayap di halaman Kantor Bupati Parigi Moutong, Senin, 18 Mei 2026, sebuah ultimatum ditiupkan. Wakil Bupati Abdul Sahid berdiri tegak di balik podium apel bersama, menatap tajam barisan jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN). Di hadapan ratusan pasang mata yang hening, ia melontarkan retorika yang bukan sekadar formalitas seremonial, melainkan sebuah maklumat ideologis tentang pembersihan moral dan pemugaran integritas birokrasi yang kian mendesak.
Bagi Sahid, korps abdi negara bukanlah sekadar mesin penggerak roda administrasi yang kaku dan beku dalam kungkungan tumpukan kertas. Mereka adalah suluh moral, perwujudan konkret dari kehadiran negara di ruang-ruang publik. Ketika etos kerja melipur dan kedisiplinan menguap menjadi sekadar rutinitas absensi, di situlah marwah pemerintahan runtuh berkeping-keping. ASN dituntut bertransformasi menjadi agen perubahan (agent of change) yang nyata, sebuah kompas etika di tengah labirin sosial masyarakat.
”ASN seyogyanya menjadi garda terdepan dalam membangun budaya kerja yang disiplin, bersih, melayani, dan berintegritas. Kehadiran ASN di tengah masyarakat harus mampu menghadirkan keteladanan, bukan hanya dalam lembar pekerjaan, tetapi terpatri dalam sikap, etika, dan tanggung jawab sosial yang suci,” ujar Abdul Sahid dengan nada suara bariton yang menghunjam sanubari peserta apel.
Sentilan keras itu diarahkan langsung pada tradisi usang yang gemar membiarkan waktu terbuang percuma. Budaya menunda-nunda pekerjaan, menurut Sahid, adalah bentuk pengkhianatan terselubung terhadap amanat rakyat. Pelayanan publik yang humanis dan tangkas harus menjadi darah baru yang mengalir dalam nadi birokrasi Kabupaten Parigi Moutong.
”Orientasi pelayanan harus menjadi budaya kerja. Kalau bisa diselesaikan hari ini, maka selesaikan hari ini. Jangan membiarkan masyarakat menanti di luar pintu akibat kelalaian birokrasi,” ketusnya mengingatkan.
Untuk memastikan titah tersebut tidak menguap menjadi sekadar angin lalu, Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong menyiapkan jangkar regulasi yang kokoh. Badan Kepegawaian Daerah (BKD) diperintahkan untuk melakukan evaluasi kehadiran dan kinerja pegawai secara berkala, tanpa kompromi, dan bebas dari tebang pilih. Ini adalah perang terbuka melawan kepalsuan performa birokrasi yang selama ini bersembunyi di balik formalitas semu.
Namun, yang paling menghentak dan mengoyak ketenangan pagi itu adalah manifesto pencegahan moralitas yang diumumkan secara mendadak. Abdul Sahid membeberkan rencana strategis yang memicu desas-desus di barisan pegawai: pelaksanaan tes urine massal bagi seluruh ASN tanpa terkecuali. Bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan aparat kepolisian, langkah ini merupakan gerakan preventif radikal untuk memastikan bahwa tubuh birokrasi benar-benar suci dari kontaminasi kelam dunia narkotika.
“Korps ASN harus bersih dari penyalahgunaan narkoba. Pencegahan harus dimulai dari internal birokrasi agar ASN tetap menjadi figur teladan yang menjunjung tinggi integritas dan nilai-nilai moral,” tegas Sahid sembari menatap lurus, mengisyaratkan bahwa tidak ada ruang perlindungan bagi mereka yang melanggar batas etika tersebut.
Selain pembersihan mental, Sahid juga menyoroti aspek estetika lingkungan kerja yang kerap terabaikan. Seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) diwajibkan menghidupkan kembali tradisi kebersihan, mulai dari meja kerja hingga sudut sanitasi yang paling intim. Baginya, kebersihan fisik mencerminkan kejernihan pikiran dalam melayani. Mengakhiri khotbah disiplinnya, ia mengingatkan pimpinan OPD untuk menjadi episentrum keteladanan, sebab loyalitas mutlak adalah harga mati demi terwujudnya akselerasi pembangunan daerah.
“Birokrasi yang kuat lahir dari kebiasaan kerja yang baik. Keteladanan harus dimulai dari pimpinan dan menjadi budaya bersama di seluruh lingkungan pemerintahan,” pungkasnya menutup fajar yang tegang di Parigi Moutong.
FAYRUZ










