Ratusan Juta Raib Dijanjikan Dapur MBG, Enam Warga Mengadu ke LMP : “Kami Dihisap Setiap Hari”

Fayruz
Enam Warga yang Merasa Tertipu Oknum Yayasan Dengan Modus Janji Dapur MBG, Mengadu ke LMP - Foto : EquatorNews

PARIGI, EQUATORNEWS – Senja di Sekretariat Markas Cabang Laskar Merah Putih Kabupaten Parigi Moutong, Senin (11/5/2026), berubah getir. Enam warga datang membawa luka yang sama: janji Dapur MBG yang menjelma sumur tanpa dasar, menelan ratusan juta rupiah dari kantong mereka.

Mereka tak datang membawa amuk. Mereka datang mengetuk pintu, menitipkan sisa harapan agar hak yang direnggut janji bisa pulang, meski hanya remahannya.

Di ruangan itu, pengakuan mengalir satu per satu, pahit dan pedih. Herman membuka suara, jemarinya saling mengunci. “Kami diberi janji tanpa tinta, jadi supplier apa saja. Uang saya Rp170 juta, saya serahkan bertahap kepada seseorang berinisial H. Sampai hari ini, dapur itu tak pernah berwujud,” ucapnya, suaranya menahan gemuruh di dada.

Herman hanya ingin satu hal: LMP menjadi jembatan. “Tolong fasilitasi kami. Bagaimana caranya hak-hak kami kembali,” pintanya lirih.

Luka serupa menganga di dada Alex. Rp200 juta miliknya terkuras pelan-pelan atas nama pengurusan dapur. “Dari penarikan di Brilink bersama si H, disaksikan teman-temannya. Lalu pengadaan peralatan dapur, biaya transport ke Jakarta, sampai uang muka mobil. Semua demi dapur yang tak pernah ada,” tutur Alex, matanya kosong menatap lantai.

Asrul hanya mampu berbisik, “Saya sudah setor Rp87 juta. Bertahap.”

Randi mengisahkan BPKB motor yang ia gadaikan. “Atas instruksi H. Katanya untuk pengurusan dapur dan transport ke Jakarta. Puluhan juta saya habis,” ujarnya.

Cerita Rostin, warga Kampal, paling mengiris. Rp140 juta lenyap. “Si H minta uang hampir setiap hari. Renovasi dapur, transport ke Jakarta untuk berkas. Saya bahkan disuruh ambil uang bank Rp20 juta. Uangnya diambil si H, tapi cicilan tak dibayar. Saya yang dikejar bank,” ungkap Rostin, suaranya habis.

Modusnya satu rupa: menjanjikan titik Dapur MBG, meminta dana dengan dalih plotting, pengurusan, transport, renovasi. Begitu uang disetor, yang tersisa hanya janji yang membusuk. Ompreng tak datang. Titik dapur hanya bayang-bayang.

Ketua Markas Cabang LMP Kabupaten Parigi Moutong, Fadli Aziz, menyambut aduan itu dengan tegas. “Terima kasih atas kepercayaannya. Kami akan dampingi. Ini bukan sekadar utang piutang. Ada dugaan penipuan di dalamnya,” katanya.

Fadli mengungkap, korban tak berhenti di enam orang ini. “Saya baru bertemu HT, warga Toribulu. Beliau setor ke Yayasan Pelita Prabu Berjaya Indonesia (PPBI) hingga Rp270 juta. Oknumnya diduga bukan hanya perwakilan, tapi pimpinan yayasan di pusat. Uang masuk, ompreng dan titik dapur nihil,” bebernya.

Sedikitnya tujuh vendor, kata Fadli, mengalami pola yang sama. Dijanjikan dapur, dimintai dana, lalu ditinggalkan.

“Insya Allah kami dampingi warga ke kepolisian. Badan Gizi Nasional juga wajib tahu ini,” tegas Fadli. Ia menambahkan, saat ini ada dua yayasan PPBI yang telah menjadi mitra BGN di Kabupaten Parigi Moutong. “Jangan ada korban lagi. Jangan ada supplier lain yang rumahnya runtuh,” ujarnya.

Hingga berita ini ditulis, pihak yang disebut dalam aduan warga belum memberikan keterangan resmi. Sementara enam warga itu pulang, menggenggam secercah harapan yang mereka titipkan ke LMP. Harapan agar ratusan juta yang mengalir untuk dapur yang tak pernah menyala, bisa kembali menjadi nasi di meja makan anak-anak mereka.

FAYRUZ

Bagika Berita :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *