PARIGI, EQUATORNEWS – Di bawah langit Parigi Moutong yang menyimpan rahasia di balik urat-urat emasnya, sebuah kabar miring berembus, mengusik ketenangan aula terhormat dewan perwakilan rakyat. Bukan soal kebijakan yang lazim diperdebatkan, melainkan tentang aroma jelaga tambang ilegal yang diduga merembas masuk ke dalam bilik-bilik pelayanan kesehatan masyarakat.
Prahara ini bermula ketika fajar menyingsing di ruang rapat Komisi IV DPRD Parigi Moutong, Senin, (7/4/2026) dua ribu dua puluh enam. Di hadapan para wakil rakyat, Nurlian, sang nakhoda sementara di Puskesmas Moutong, menumpahkan keluh kesahnya. Ia mengisahkan betapa getirnya menakhodai fasilitas kesehatan yang sedang sekarat dihantam badai krisis finansial. Demi menjaga agar napas pasien rujukan tidak terhenti, sang pejabat mengaku terpaksa menempuh jalan sunyi: meminjam pundi-pundi rupiah dari tangan pengusaha tambang emas tanpa izin.
Namun, pengakuan itu tidak berhenti pada jeritan ekonomi semata. Ada sebuah inisial yang meluncur, membawa riak yang kian membesar. Dalam forum yang sakral itu, Nurlian melantunkan ucapan terima kasih kepada S, seorang srikandi legislatif dari Daerah Pemilihan Empat yang akrab disapa P. Ucapan syukur itu bak pedang bermata dua, memantik tanya tentang sejauh mana jemari kekuasaan berkelindan dengan dunia hitam pertambangan.
Spekulasi pun menari-nari di ruang publik. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa sosok berinisial N, sang saudagar tambang yang diduga memberi pinjaman, merupakan orang dekat sang anggota dewan tersebut. Benarkah ini sekadar bantuan kemanusiaan yang tulus di tengah kebuntuan anggaran, ataukah sebuah simfoni terlarang antara pengambil kebijakan dan pemanen kekayaan alam secara ilegal?
Dugaan keterlibatan ini masih menjadi teka-teki yang menggantung di cakrawala. Meski azas praduga tak bersalah tetap menjadi payung utama, bayang-bayang ini menuntut pembuktian yang benderang. Publik kini menanti, apakah ini hanya sebuah salah paham dalam tutur kata, ataukah ada noda yang sengaja disembunyikan di balik jubah kehormatan.
Upaya untuk menyingkap tabir gelap ini terus dilakukan. Saat jemari para kuli tinta mencoba mengetuk pintu konfirmasi melalui pesan singkat pada Rabu malam, (15/4/2026), sang legislator, S, memilih untuk tetap membisu. Meski tanda pesan telah diterima tampak jelas di layar ponsel, tak ada kata yang terucap, tak ada klarifikasi yang mengalir.
Hingga berita ini diturunkan, keheningan itu masih menyelimuti tanah Parigi Moutong. Sebuah misteri tentang emas, nyawa, dan mandat rakyat yang kini tengah dipertaruhkan di atas meja kebenaran.
FAYRUZ










