PARIGI, EQUATORNEWS – Banjir di Avolua telah pergi. Ia tidak pamit. Ia hanya meninggalkan lumpur, kayu-kayu gelondongan yang tersangkut di pintu rumah, dan sepi yang lebih dalam dari air itu sendiri.
Di Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, Kamis, 27 Agustus 2026, air tak lagi setinggi dada. Yang ada hanya sisa. Di sisa itulah, sebuah truk berhenti. Dari baknya, karung-karung beras, dus mi instan, air minum, susu untuk anak-anak, dan biskuit diturunkan satu per satu oleh tangan-tangan yang belepotan lumpur.
Itu adalah bantuan dari PT Sentra Pangan Sejahtera (SPS) bersama Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Parigi Moutong.
Manajemen PT SPS, Yau Sen, mengatakan penyaluran ini bukan program tahunan. Ini adalah refleks. Sebuah bentuk kepedulian sosial dan gotong royong untuk meredakan beban tetangga di sekitar lingkungan perusahaan.
Bantuan yang dibawa bukan hanya beras. Ia adalah isi dapur yang paling dibutuhkan hari ini: mi instan, air minum, susu, hingga biskuit untuk anak-anak yang dua hari tidak bersekolah.
“Ini adalah tanggung jawab moral,” ujar Manajemen PT SPS. “Perusahaan tidak hanya berinvestasi dan membuka lapangan pekerjaan. Ia harus hadir ketika musibah datang.”
Kehadiran itu menjadi personal, karena sejumlah karyawan PT SPS sendiri adalah korban. Rumah mereka ikut terendam. Karena itu, selain logistik umum, perusahaan juga menyalurkan bantuan pakaian layak pakai khusus untuk karyawan yang terdampak.
Di samping truk itu, Ketua Kadin Parigi Moutong, Faradiba Zaenong, berdiri. Ia tidak banyak berpidato.
“Aksi ini adalah bukti nyata solidaritas dunia usaha dan masyarakat,” tuturnya pelan. “Meskipun bantuan ini belum bisa menuntaskan seluruh masalah, semoga bisa sedikit meringankan beban hidup para korban.”
Kadin Parigi Moutong dan PT SPS berjanji akan terus memantau. Jika perlu, bantuan tahap kedua akan menyusul.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong telah menetapkan status tanggap darurat. Pelaksana Tugas Kepala BPBD Parigi Moutong, Moh Rivai, mengatakan status itu berlaku 14 hari, mulai 26 Agustus hingga 8 September 2026.
Fokusnya kini tiga: pemenuhan kebutuhan dasar korban, pembersihan lumpur yang mengendap di pemukiman, dan normalisasi sungai yang meluap karena tersumbat material.
“Langkah cepat harus dilakukan,” kata Rivai, Rabu, 26 Agustus. “Pemulihan butuh waktu. Banyak gelondongan kayu dan lumpur berserakan.”
Di lapangan, sekitar 200 personel gabungan TNI/Polri masih bekerja. Mereka menyekop lumpur bersama warga. Kerja kolaborasi lintas sektor, katanya.
Sementara di Avolua, sore itu, seorang ibu memeluk dus susu anaknya. Bukan karena isinya mewah. Tapi karena di tengah lumpur, ia tahu dapurnya bisa menyala lagi malam ini.
FAYRUZ










