Simfoni Baru di Tanah Parigi Moutong, Gema Visi Erwin Burase Memahat Masa Depan Transmigrasi

Fayruz

PARIGI, EQUATORNEWS – Di bawah langit Jakarta yang riuh, sebuah narasi besar tentang harkat hidup dan kedaulatan ekonomi sedang dirajut kembali. Bukan lagi sekadar cerita tentang perpindahan raga menembus belantara, transmigrasi kini bersalin rupa menjadi sebuah epos pembangunan semesta. Di tengah pusaran perubahan itu, sosok Bupati Parigi Moutong Erwin Burase berdiri tegak membawa asa bagi rakyatnya, menyambut uluran tangan pusat untuk menjadikan tanah khatulistiwa itu sebagai mercusuar baru ekonomi nasional.

​Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman dalam pertemuan yang berlangsung Selasa, 3 Maret 2026, menegaskan bahwa lembaran lama transmigrasi yang hanya menitikberatkan pada perpindahan penduduk telah resmi ditutup. Kini, sebuah arah kebijakan baru telah lahir, sebuah instrumen yang dirancang untuk membidani lahirnya ekosistem ekonomi produktif, inklusif, dan berkelanjutan. Dalam visi besar ini, Parigi Moutong dipandang bukan sekadar titik di peta, melainkan tanah terjanji yang siap diolah menjadi model transmigrasi modern bagi nusantara.

​Langkah kaki Erwin Burase yang mantap menuju kementerian mencerminkan kesiapan jiwa dan raga daerahnya untuk memikul mandat sejarah. Baginya, kebijakan ini adalah napas baru bagi visi pembangunan daerah yang ia pimpin. Ia menegaskan bahwa Parigi Moutong siap menjadi rahim bagi lahirnya desa hingga kota modern yang berdiri kokoh di atas fondasi investasi dan penciptaan lapangan kerja, tanpa sedikit pun menomorduakan hak rakyat lokal.

​Menteri Iftitah Sulaiman mengutarakan bahwa transmigrasi masa kini adalah soal membangun peradaban ekonomi. Pembangunan fisik dan infrastruktur tidak lagi boleh berdiri sebagai monumen sunyi, melainkan harus menjadi urat nadi yang mengalirkan kesejahteraan nyata. Jika jalan dibangun, maka distribusi harus lancar dan nilai komoditas rakyat harus meroket. Di tanah Parigi Moutong, potensi industri hilir kelapa seluas 2.000 hektare telah menanti sentuhan tangan-tangan kreatif untuk menyerap ribuan tenaga kerja.

​Guna mewujudkan mimpi besar ini, anggaran senilai 121 miliar rupiah pada tahap awal telah dialokasikan untuk membangun satuan permukiman percontohan. Namun, lebih dari sekadar angka, yang dikejar adalah sebuah orkestrasi lintas sektoral. Lahan-lahan transmigrasi akan disertifikasi dan divaluasi agar memiliki nilai ekonomi yang tinggi, menjadikannya aset berharga yang mampu menarik minat investor dunia untuk menanam modal dengan penuh tanggung jawab.

​Erwin Burase dengan penuh optimisme menyatakan bahwa masyarakat lokal adalah subjek utama dalam simfoni pembangunan ini. Mereka bukan penonton di tanah sendiri, melainkan pelaku utama yang akan mengisi ruang-ruang koperasi, pusat perdagangan, hingga institusi pendidikan yang akan dibangun di kawasan tersebut. Kehadiran program Transmigrasi Patriot juga diharapkan mampu mendatangkan tunas-tunas unggul yang akan berkarya sekaligus menimba ilmu, menjadikan Parigi Moutong sebagai laboratorium hidup bagi kemajuan pertanian dan industri pengolahan.

​Di akhir pertemuan yang penuh semangat itu, sebuah pesan kuat menggema dari sang Menteri. Ia mendambakan pemimpin daerah yang memiliki visi setajam elang, yang mengenal lekuk potensi wilayahnya dan berani membangun ekosistem ekonomi yang mandiri. Di tangan Erwin Burase, visi itu tampak benderang, menjanjikan fajar baru di mana kemakmuran bukan lagi sekadar mimpi di ufuk timur, melainkan realitas yang nyata di Bumi Parigi Moutong.

FAYRUZ/*

Bagika Berita :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *