PARIGI, EQUATORNEWS – Ada duka yang lebih luruh daripada sekadar kekalahan di papan skor. Di bawah langit Bambalemo yang menyimpan sisa-sisa peluit panjang, AKL 88 FC harus menerima kenyataan pahit bahwa perjalanan mereka di panggung Gubernur Cup harus terhenti selamanya. Bukan karena tertatih mengejar ketertinggalan 0-1 dari Alfath Family di rumput hijau, melainkan karena runtuhnya benteng administratif yang mereka bangun sendiri.
Sepak bola, pada hakikatnya, bukan hanya perihal si kulit bundar yang diperebutkan dengan peluh, melainkan tentang kesetiaan pada janji-janji tertulis yang disepakati di meja perundingan.
Batas yang Dilampaui, Kehormatan yang Teruji
Setiap kompetisi memiliki ruh berupa aturan. Dalam Technical Meeting yang digelar Desember silam, telah disepakati sebuah garis batas: empat pemain transfer adalah angka maksimal bagi setiap kesebelasan untuk memperkuat barisan. Namun, berdasarkan hasil rapat pleno Panitia Pelaksana pada 15 Januari 2026, AKL 88 FC ditemukan telah melangkah jauh melampaui batas keramat tersebut.
Ketegasan panitia diuji ketika bukti autentik berupa KTP asli para pemain tak kunjung hadir di meja klarifikasi. Peringatan yang sempat dibisikkan oleh Matchcom sebelum laga dimulai, kini menjelma menjadi gema penyesalan yang membungkam ambisi tim untuk terus melangkah.
Vonis Sang Pengadil Administratif
Melalui surat keputusan bernomor 0023/GC/I/2026, para penjaga sportivitas—Mardjun Niode, M. Asri, dan Sugito Ticoalu—menjatuhkan palu vonis yang menggetarkan. Skor tipis yang semula menjadi saksi bisu perjuangan mereka, kini dikoreksi secara absolut menjadi kemenangan telak 4-0 bagi Alfath Family.
Namun, sanksi paling berat yang harus dipikul adalah DISKUALIFIKASI. Kata itu berdiri tegak, meruntuhkan seluruh harapan AKL 88 FC untuk kembali merumput di ajang ini. Langkah mereka tidak terhenti oleh adu taktik atau ketangkasan lawan, melainkan oleh kedaulatan aturan yang tak mengenal kompromi.
Sebuah Refleksi di Ujung Senja
Kini, Lapangan Patriot Bambalemo kembali hening. Peristiwa ini meninggalkan pesan yang mendalam bagi seluruh insan olahraga di Parigi: bahwa kemenangan sejati senantiasa berakar pada kejujuran administratif.
Panitia menegaskan bahwa ketegasan ini diambil demi menjaga marwah turnamen dari kerugian moral dan teknis. Bagi AKL 88 FC, ini adalah akhir dari sebuah babak yang getir, sebuah pengingat bahwa di dalam sepak bola, integritas adalah kapten yang tak boleh dikhianati, meski demi satu kemenangan sekalipun.
FAYRUZ










