Maut di Balik Kilau, Saat Emas Dibayar Nyawa, dan Air Berubah Menjadi Lumpur Air Mata
PARIGI, EQUATORNEWS –
Di bawah kaki perbukitan yang telah koyak oleh kuku-kuku besi ekskavator, Desa Buranga kini tak lebih dari sekadar fragmen luka yang membusuk. Tanah ini kembali menunjukkan wajah aslinya, bukan sebagai ibu yang menyusui, melainkan sebagai rahim yang mengubur.
Tragedi demi tragedi yang berulang seolah menjadi kutukan yang tak kunjung usai.
Setiap kali alat berat merobek dada bumi, setiap itu pula warga setempat mempertaruhkan detak jantungnya. Kematian AR alias Aco (32) pada medio Februari 2026 ini bukanlah sekadar angka statistik, melainkan jeritan bisu dari sebuah desa yang dipaksa memilih antara perut yang lapar atau nyawa yang melayang.
Naga Besi dan Liang Lahat yang Menganga
Malam itu, Kamis, 12 Februari 2026, kesunyian Buranga pecah oleh gemuruh tanah yang luruh. Aco, pemuda yang mencari secercah harapan di kedalaman lubang, justru menemukan ajalnya. Tubuhnya ringkih dihimpit dinding bumi yang rapuh akibat gempuran mesin-mesin “naga besi” yang tak kenal ampun.
Meski evakuasi dilakukan dengan sisa-sisa tenaga dan keputusasaan, maut telah lebih dulu menjemput di lorong gelap tambang ilegal itu. Namun, ironi tak berhenti di sana. Tak lama setelah nyawa melayang, para pemodal “siluman” yang diduga berasal dari Jakarta berinisial DN, dilaporkan menghilang bak ditelan kabut malam. Alat-alat berat yang tadinya mengaum gagah kini raib, disembunyikan di kedalaman hutan demi menghindari jerat hukum, meninggalkan duka yang hanya menjadi beban keluarga korban.
Sungai yang Mengalirkan Air Mata Cokelat
Duka Buranga tidak hanya terkubur di dalam tanah, ia juga mengalir di sepanjang sungai-sungai yang kini sekarat. Anggota DPRD Parigi Moutong, Lely Pariani, dalam pernyataannya yang getir di EquatorNews, menggambarkan kondisi ini sebagai pengkhianatan terhadap alam.
”Masyarakat sudah berteriak! Air sungai tidak bisa lagi dipakai untuk mandi, apalagi minum. Ini bukan lagi air, tapi lumpur pekat yang dialirkan ke rumah-rumah warga,” tegas Lely dengan nada yang menghujam nurani.
Srikandi parlemen dari Fraksi Golkar ini membeberkan fakta pahit bahwa hilangnya bening kristal di sungai-sungai Ampibabo adalah bukti nyata keserakahan yang tak terkendali. Bagi Lely, perempuan adalah korban paling sunyi dari kiamat kecil ini. Ibu-ibu di Buranga kini harus bertarung dengan sedimen cokelat hanya untuk mencuci pakaian atau sekadar membersihkan diri, sementara para cukong berpesta di atas penderitaan domestik warga.
Paradoks Kemakmuran: Antara Perda dan Perut
Lely Pariani mengingatkan bahwa secara hukum, Ampibabo adalah benteng pertahanan pangan melalui Perda LP2B. Namun, di lapangan, hukum tampak tumpul menghadapi kilau logam mulia. Irigasi yang seharusnya mengairi padi-padi harapan kini tersumbat sedimen tambang.
”Kita sedang menanam bencana,” bisik seorang warga di pinggiran lubang galian. Buranga kini berada di titik nadir; sebuah teater tragedi di mana emas yang digali dengan darah hanya menyisakan nisan-nisan kayu dan air sungai yang tak lagi mampu menyucikan diri.
Sampai kapan naga-naga besi itu dibiarkan mencabik jantung Buranga? Selama pemodal masih bersembunyi di balik bayang-bayang, dan sungai masih mengalirkan lumpur cokelat, maka selama itu pula Buranga akan terus menjadi kuburan yang lapar bagi anak-anaknya sendiri.
FAYRUZ










