PARIGI, EQUATORNEWS – Lapangan Harimau Baliara sore tadi bukan sekadar rumput hijau tempat mengejar bola, melainkan panggung drama yang menguras raga dan jiwa. Final Zona 1 Bupati Cup Liga 4 Indonesia 2025-2026 Seri Parigi Moutong mempertemukan dua raksasa, Berlian Tomoli dan Banteng Olaya, dalam sebuah pertempuran yang akan dikenang sebagai “Laga Napas Terakhir”.
Sejak peluit pertama melengking, atmosfer pertandingan langsung mendidih. Tempo tinggi diperagakan, jual beli serangan terjadi bak ombak yang menghantam karang. Namun, kokohnya barisan belakang kedua tim membuat setiap peluang emas seolah membentur tembok tak kasat mata. Papan skor tetap bergeming “kaca mata”, meski keringat telah membanjiri bumi Baliara.
Namun, sepak bola terkadang meminta tumbal yang mahal. Memasuki pertengahan babak kedua, sunyi seketika mencekam saat striker andalan Berlian Tomoli, Muhammad Radith, tumbang. Benturan keras di jantung pertahanan lawan membuatnya kolaps di atas lapangan. Di sisi lain, Ahlan, bek kiri Banteng Olaya, harus merumput dengan perban melilit pelipisnya akibat luka robek—sebuah tanda betapa sengitnya harga diri yang sedang dipertaruhkan.
Hingga waktu normal usai, tak ada gol yang tercipta. Nasib kemudian diserahkan pada “lotre” adu penalti yang kejam. Di sinilah Sahdal, sang penjaga gawang Berlian Tomoli, menjelma menjadi pahlawan. Dengan insting tajam, ia mematahkan harapan Banteng Olaya setelah menepis sepakan keras Aan Iliansyah dan Muhammad Aswandi. Meski algojo Berlian Tomoli, Arisandi, sempat membuat tribun berdesir saat tendangannya melambung jauh di atas mistar Zulkifli, kemenangan akhirnya tetap berpihak pada sang “Berlian”.
Skor 2-4 mengunci gelar juara bagi Berlian Tomoli. Namun, tak ada pesta pora yang berlebihan. Saat trofi diangkat, doa-doa tulus justru mengalir menuju RSUD Anuntaloko Parigi untuk kesembuhan Radith. Sore itu di Baliara, sepak bola telah mengajarkan kita tentang arti perjuangan yang melampaui batas fisik: bahwa kemenangan adalah perpaduan antara ketangguhan, keberuntungan, dan rasa kemanusiaan yang mendalam.
FAYRUZ










