Oleh: DEDI ASKARY, SH.
Business and Human Rights Consulting, Dewan Pendiri sekaligus Direktur LPS-HAM Sulteng pertama, anggota Dewan Pendiri LBH. Sulteng, Ketua Komnas HAM Sulteng 2006-Juli 2025. Pernah menjabat Deputy Direktur Walhi Sulteng dan Ketua Dewan Daerah Walhi Sulteng, Tinggal di Mbaliara, Parigi Barat.
Sekedar Pengantar
Kita sering dengar istilah keren bernama Ekonomi Biru.
Kedengarannya seperti janji surga—katanya laut kita adalah masa depan. Tapi di sisi lain, tanah kita sedang dikeruk habis-habisan oleh Pertambangan Tanpa Izin (PETI). Ini bukan sekadar soal uang, ini soal siapa yang bakal tertawa terakhir di Teluk Tomini.
- Ekonomi Biru:
Harapan atau Sekadar Jargon?
Pemerintah bilang, Parigi Moutong mau jadi kiblat Ekonomi Biru. Idenya mulia: menjaga laut tetap sehat supaya ikan melimpah, rumput laut subur, dan pariwisata jalan.
Bagi kita warga pesisir, Ekonomi Biru seharusnya berarti:
- Perut kenyang:
Nelayan tidak perlu melaut jauh-jauh hanya untuk cari satu ember ikan. - Modal kuat:
Petani rumput laut didukung, bukan cuma dikasih janji saat kampanye. - Warisan anak cucu:
Laut yang jernih, bukan yang keruh tertutup limbah.
Tapi jujur saja, Ekonomi Biru cuma akan jadi dongeng sebelum tidur kalau sinergi pemerintah dan warga cuma sebatas seremonial potong pita.
- Musuh dalam Selimut:
Racun PETI
Nah, ini yang bikin sesak napas. Di atas kertas kita bicara kelestarian laut, tapi di hulu sungai dan di daratan, alat berat (ekskavator) menggaruk tanah tanpa henti. Itulah PETI.
Kenapa PETI itu “jahat” buat warga pesisir?
- Lumpur dan Merkuri:
Apa yang dikeruk di gunung, turunnya ke sungai. Ujung-ujungnya? Bermuara ke laut kita. Ikan-ikan “makan” racun, terumbu karang mati tertimbun sedimen. - Kekayaan Sesaat, Rusak Selamanya:
Uang hasil tambang ilegal mungkin terasa manis di tangan beberapa orang sekarang, tapi dampaknya? Sepuluh tahun lagi nelayan mungkin cuma bisa menjala sampah dan lumpur.
- Konflik Sosial:
Tambang ilegal seringkali bikin warga kotak-kotak. Ada yang pro karena butuh makan, ada yang kontra karena takut lingkungan hancur.
- Adu Kuat:
Sinergi vs Serakah
Parigi Moutong sedang berada di persimpangan jalan. Kita punya Teluk Tomini yang luar biasa, tapi kita juga punya “gatal” untuk mengeruk emas dengan cara instan.
Sinergi itu bukan cuma rapat di hotel bintang lima. Sinergi itu berarti:
- Ketegasan:
Pemerintah jangan tutup mata soal PETI hanya karena ada “titipan”. - Solusi Nyata:
Kalau warga dilarang menambang ilegal, kasih mereka jalan di sektor perikanan atau pengolahan hasil laut yang modalnya masuk akal. - Kesadaran Warga:
Kita harus sadar, laut adalah tabungan jangka panjang. Emas di gunung bisa habis, tapi laut yang sehat bisa menghidupi tujuh turunan.
Kesimpulan:
Mau Pilih yang Mana?
Ekonomi Biru itu ibarat menanam pohon kelapa; lama nunggunya tapi hasilnya terus-menerus. PETI itu ibarat bakar rumah buat ambil paku emasnya; cepat dapatnya, tapi kita kehilangan tempat tinggal.
Warga Parigi Moutong bukan orang bodoh. Kita tahu mana yang janji manis dan mana yang benar-benar membangun harapan. Jangan sampai laut kita yang biru berubah jadi cokelat berlumpur hanya karena kita rakus hari ini.
Mari kita jaga Teluk Tomini, karena dari sanalah nadi hidup kita berdenyut.









