Diskusi hangat Bupati Erwin Burase bersama insan pers menjadi lentera awal bagi pendidikan rakyat di wilayahnya.
PARIGI, EQUATORNEWS —
Dalam perbincangan santai namun penuh makna bersama para jurnalis Parigi Moutong di Rumah Jabatan Bupati, Senin malam (14/7/2025), Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase, membuka tabir rencana besar membangun Sekolah Rakyat, sebuah ikhtiar memuliakan akses pendidikan bagi anak-anak di daerah.
Bupati menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten telah mengusulkan beberapa lokasi untuk pembangunan sekolah tersebut. Salah satu yang dinilai paling strategis berada di kawasan Gedung Olahraga Parigi, dengan luas lahan sekitar delapan hektare. Lokasi itu merupakan aset terbaik, dan saat ini sedang dalam proses penawaran kepada pemerintah pusat untuk menjadi tempat berdirinya sekolah rakyat.
“Kita sudah cari dan tawarkan lokasi, terutama yang tidak terlalu jauh dari kota. Ada di kawasan Gedung Olahraga , lahan terbaik, dan di sana sudah ada beberapa fasilitas dasar,” ujar Erwin dengan nada optimis.
Namun, ia juga menyinggung persoalan status hukum lahan tersebut. Apabila masih terdapat persoalan yang belum tuntas, lokasi alternatif di wilayah Kecamatan Siniu telah disiapkan.
“Kalau masih ada persoalan hukum, kita bisa alihkan ke Siniu. Di sana ada lahan hasil pembebasa yang luasnya juga mencukupi,” tambahnya.
Tak hanya itu, Erwin juga menyebutkan bahwa pembangunan awal akan dimulai di Siniu, dengan target daya tampung sekitar 200 siswa. Proyek ini bahkan sudah mendapatkan restu anggaran dari pemerintah pusat untuk merehabilitasi bangunan yang ada.
“Sudah kita anggarkan untuk rehab. Sudah disetujui pusat. Jadi kita bisa segera buka pendaftaran siswa baru,” terang Erwin.
Bupati pun menegaskan bahwa langkah ini adalah permulaan dari komitmen panjang membangun LPKS (Lembaga Pendidikan Khusus dan Sekolah Rakyat). Ia menyebutkan bahwa baru satu wilayah di Sulawesi Tengah, yakni Kota Palu, yang mulai merintis model sekolah serupa—meskipun masih dalam tahap perencanaan seperti Parigi Moutong.
Langkah membangun Sekolah Rakyat merupakan bagian dari visi besar memperluas akses pendidikan tanpa sekat. Konsepnya tak hanya fokus pada gedung dan guru, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan kemandirian dalam kurikulum, sesuai dengan semangat keadilan sosial yang selama ini digaungkan dalam sistem pendidikan alternatif.
Menurut catatan Kementerian Sosial dan Kemendikbudristek, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi formal, melainkan ruang tumbuh yang mengakomodasi siswa dari keluarga rentan, yatim-piatu, hingga anak korban konflik sosial. Model ini telah diujicobakan di beberapa daerah dengan berbagai adaptasi lokal, termasuk integrasi dengan pesantren, panti asuhan, dan komunitas adat.
Dengan menyampaikan rencana ini secara terbuka, Bupati Erwin Burase menunjukkan bahwa Parigi Moutong tak sekadar mengikuti arus, tetapi hendak menjadi pionir perubahan. Ia percaya, pendidikan bukan hanya tentang bangku dan papan tulis, tapi tentang menyalakan harapan.
“Saya ingin cepat. Kita tidak bisa menunggu semua sempurna dulu. Kita mulai dari yang ada, dan terus kita sempurnakan,” pungkas Erwin.
Malam itu, di bawah cahaya lampu Rujab, tak sekadar kata-kata yang terucap. Ada cita-cita yang disematkan—bahwa dari Parigi Moutong, cahaya sekolah rakyat akan mulai menyala.
FAYRUZ