​”Drama Tujuh Gol, Ketajaman Tanduk Banteng Olaya Koyak Perlawanan ISBA Binangga di Semifinal”

Fayruz
Banteng Olaya (Hitam) Lolos ke Final Liga 4 Seri Parigi Moutong, usai Kalahkan ISBA Binangga (Orange)- Foto : EquatorNews

PARIGI,EQUATORNEWS — Lapangan Harimau Baliara, Rabu (7/1/2026), tak ubahnya sebuah koloseum kecil di Parigi Moutong. Di sanalah, di bawah langit sore yang menjadi saksi bisu, Banteng Olaya dan ISBA Binangga menarikan sebuah koreografi intensitas tinggi dalam Semifinal Bupati Cup Liga 4 Indonesia 2025–2026.

Tidak ada ruang untuk bernapas lega; 90 menit itu adalah hikayat tentang ambisi yang beradu, berakhir dengan skor tipis nan dramatis, 4-3, untuk kemenangan Banteng Olaya.
​Sejak peluit pertama memecah keheningan, kedua kesebelasan yang sama-sama memegang pakem agresif 4-3-3 menolak untuk bermain aman. Jual beli serangan terjadi nyaris tanpa jeda, seolah bertahan adalah sebuah dosa.
​Banteng Olaya membuka narasi pada menit ke-12. Di tengah perebutan kuasa lini tengah yang dikomandoi Aswandi, Alan Ilham, dan Najri, sebuah momentum tercipta dari bola mati. Aan Iliansyah melepaskan tendangan bebas yang meluncur deras, merobek gawang ISBA Binangga dan mengubah papan skor.

​Namun, ISBA Binangga bukanlah tim yang mudah runtuh mentalnya. Trio gelandang mereka, Akbar, Nizam, dan Galbi, perlahan merebut kembali kendali ritme. Hasilnya manis. Sembilan menit berselang, Rangga, sang ujung tombak, berhasil menyamakan kedudukan, memaksa pertandingan kembali ke titik nol.
​Babak pertama kemudian berubah menjadi panggung kejar-kejaran yang melelahkan jantung penonton. Menit ke-26, Muhammad Rizik mengembalikan keunggulan Banteng Olaya lewat sepakan keras dari luar kotak penalti, sebuah pernyataan tegas tentang dominasi. Tetapi lagi-lagi, ISBA menjawab. Rangga mencetak gol keduanya pada menit ke-37, menyambut umpan silang Akbar dengan penyelesaian dingin. Skor 2-2 mengantar kedua kubu ke ruang ganti dengan napas memburu.

​Memasuki babak kedua, drama sesungguhnya baru dimulai. Banteng Olaya menunjukkan efisiensi yang mematikan lewat skema bola mati. Striker Teguh Hidayatullah membuat timnya kembali memimpin lewat tendangan bebas jarak jauh yang menipu mata.
​ISBA Binangga merespons dengan menaikkan garis pertahanan, mengurung lawan demi gol penyeimbang. Namun, di tengah gempuran itu, mereka justru terhukum oleh kelengahan. Menit ke-77, sang kapten Banteng Olaya, Aswandi, memperlebar jarak menjadi 4-2 lewat eksekusi tendangan bebas yang tenang namun menghunjam tajam.
​Tertinggal dua gol di sisa waktu tak membuat nyali ISBA Binangga ciut. Trio penyerang Rangga, Fahrul Ardiansyah, dan Muhammad Ikbal membombardir pertahanan lawan layaknya ombak menghantam karang. Sayangnya, di bawah mistar gawang Banteng Olaya, berdiri Zulkifli. Sang kiper tampil heroik, menjadi tembok terakhir yang mementahkan serangkaian peluang emas.
​Asa sempat menyala kembali pada menit ke-82. Sebuah handball di kotak terlarang memberi ISBA napas buatan. Sandi Gunarsa menunaikan tugas penalti dengan sempurna, mengubah skor menjadi 4-3. Namun, waktu adalah musuh yang tak bisa dikalahkan. Hingga peluit panjang berbunyi, kedudukan tak lagi bergeser.
​Kemenangan ini bukan sekadar angka di papan skor, melainkan tiket emas menuju partai puncak.

Banteng Olaya kini menatap tanggal 9 Januari 2026 dengan tatapan tajam. Di tempat yang sama, Lapangan Harimau Baliara, mereka telah ditunggu oleh Berlian Tomoli untuk sebuah laga pamungkas, di mana ketegangan, harapan, dan takdir juara akan kembali dipertaruhkan.

FAYRUZ

Bagika Berita :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *