PARIGI, EQUATORNEWS – Di bawah langit Parigi yang masih menyimpan sisa muram, sebuah duka merayap di sela-sela hembusan angin. Sabtu (11/04/2026) menjadi saksi bisu saat semesta seolah sedang tidak bersahabat di Jalan Palo Lidah, Kelurahan Kampal. Sebatang pohon trembesi tua tumbang, tidak hanya meruntuhkan dahan dan daun, tetapi juga menghimpit napas seorang insan yang tengah melintas, meninggalkan luka yang menganga dalam di relung hati keluarga.
Runtuhnya Trembesi, Goyahnya Sandaran Hati
Rumah duka di Desa Boyantongo tak henti-hentinya diselimuti aroma kesedihan yang pekat. Isak tangis lirih menjadi melodi yang mengiringi kepergian korban. Namun, di tengah pekatnya kabut duka tersebut, sebuah pelita kemanusiaan mulai dinyalakan. Minggu (12/04/2026), rombongan panitia pelaksana Futsal Pelajar Piala Bergilir Bupati Parigi Moutong melangkah perlahan menuju rumah duka, membawa serta sebentuk simpati yang melampaui sekadar formalitas organisasi.
Kemanusiaan di Atas Segalanya
Rombongan yang dipimpin oleh Roni Saputra tersebut hadir dalam komposisi yang mencerminkan keberagaman peran—mulai dari wasit yang terbiasa dengan ketegasan di lapangan, tim medis yang akrab dengan luka, hingga petugas Dinas Perhubungan yang setia menjaga arus kehidupan. Kehadiran mereka di hadapan ayah korban bukan sekadar penyerahan materi, melainkan sebuah ziarah batin untuk merangkul jiwa yang sedang luluh lantak.
Dalam suasana yang sederhana dan penuh khidmat, kata-kata mengalir lirih seolah tak ingin mengusik kedamaian doa yang tengah dipanjatkan. Roni Saputra mengungkapkan bahwa kedatangan mereka adalah panggilan nurani yang tak bisa ditawar oleh kesibukan teknis turnamen.
”Kami datang bukan hanya sebagai panitia pelaksana kegiatan, tetapi sebagai manusia yang memiliki rasa peduli terhadap sesama. Musibah tidak pernah memilih waktu dan tidak memandang siapa, sehingga apa yang kami lakukan hari ini adalah bentuk tanggung jawab bersama,” ungkap Roni dengan nada yang dalam.
Sebentuk Penawar di Tengah Lara
Santunan yang diberikan mungkin tak akan pernah mampu mengganti kehadiran raga yang telah berpulang, namun ia hadir sebagai penawar beban. Penyerahan yang didampingi oleh penasehat hukum keluarga korban ini menjadi bukti bahwa di balik gemuruh persiapan ajang olahraga, denyut kemanusiaan tetap berdetak kencang di Parigi Moutong.
”Kami ingin keluarga yang ditinggalkan mengetahui bahwa mereka tidak sendiri. Ada banyak pihak yang turut merasakan duka ini,” tambah Roni, menekankan bahwa solidaritas adalah fondasi terkuat saat ujian menghujam.
Kini, dari ambang pintu rumah duka di Boyantongo, sebuah pesan sunyi tersampaikan kepada semesta: bahwa meski maut datang tanpa permisi melalui runtuhnya dahan-dahan tua, kasih sayang sesama manusia akan selalu punya cara untuk saling menguatkan, merajut kembali harapan yang sempat koyak oleh takdir.
FAYRUZ










