PARIGI, EQUATORNEWS – Di ambang senja yang luruh di ufuk barat Desa Pangi, seorang perwira berdiri dengan sorot mata yang meluruhkan ketegasan seragamnya. Kapolres Parigi Moutong, AKBP Dr. Hendrawan A.N, S.I.K., M.H, tidak sedang memerintah di balik meja mahoni yang kaku melainkan terjun ke aspal panas Jalan Trans Sulawesi demi menjemput berkah di penghujung hari. Bersama sang istri tercinta, Ny. Bibit Hendrawan, beliau mengulurkan tangan-tangan penuh kasih kepada setiap musafir yang melintas dalam balutan jingga yang kian meredup pada Rabu sore yang syahdu itu.
Setiap bungkus takjil yang berpindah tangan bukan sekadar pelepas lapar melainkan pesan bisu tentang kepedulian seorang pemimpin terhadap rakyatnya. Senyum haru dari para pengemudi truk yang kelelahan serta tawa renyah bocah-bocah di atas motor menjadi saksi bahwa kebahagiaan sejati terletak pada kerelaan untuk berbagi. Di bawah komando sang perwira, keluarga besar Polres Parigi Moutong sejenak menanggalkan atribut otoritas demi menjadi pelayan kemanusiaan yang rendah hati di pinggir jalan raya.
Namun, palung hati sang Kapolres terasa semakin dalam saat langkah kaki rombongan memasuki Masjid Ass Syamsa Walqamar. Di rumah Tuhan yang hening itu, AKBP Hendrawan merangkul para insan pers dalam satu meja perjamuan yang hangat. Suasana tanpa sekat tercipta dengan indahnya, seolah menegaskan bahwa pena wartawan dan kebijakan polisi adalah dua sisi mata uang yang sama-sama bergerak demi keadilan. Obrolan mengalir deras bersama aroma hidangan berbuka, menciptakan simfoni persaudaraan yang jarang ditemui di hari-hari biasa.
Momen yang paling menggetarkan sukma terjadi ketika cahaya lampu masjid menyinari wajah-wajah polos anak yatim yang hadir. Di saat itulah, ketegasan seorang Kapolres luluh menjadi kelembutan seorang ayah. Saat tangan beliau menyentuh kepala dan menyerahkan santunan, ada getaran haru yang menjalar di sanubari setiap orang yang menyaksikan. Di sana, bukan sekadar rupiah yang berpindah tangan, melainkan sebuah pelukan batin yang mengatakan bahwa anak-anak tanpa ayah itu tidaklah sendirian dalam mengarungi sisa Ramadhan.
Dalam petuah singkatnya yang sarat makna, AKBP Hendrawan menyampaikan bahwa esensi sejati dari Ramadhan adalah memperkuat ikatan batin antarsesama manusia. Beliau mengingatkan bahwa tugas melindungi dan mengayomi masyarakat tidak hanya dilakukan dengan patroli keamanan, tetapi juga dengan menyentuh nurani masyarakat melalui ketulusan. Baginya, sinergi yang terbangun di atas meja makan dan di atas sajadah jauh lebih kuat daripada sekadar instruksi formal di kantor kepolisian.
Malam pun jatuh dengan perlahan di Bumi Parigi Moutong, membawa serta doa-doa yang dirapalkan bersama di penghujung acara. Di bawah langit yang kian pekat, sosok sang Kapolres telah menorehkan tinta emas tentang bagaimana seharusnya seorang pemimpin bersikap. Beliau telah membuktikan bahwa kemuliaan tertinggi seorang perwira bukan terletak pada pangkat yang tersemat di bahu, melainkan pada seberapa besar manfaat dan cinta yang sanggup ia berikan kepada jiwa-jiwa yang membutuhkan di sekelilingnya.
FAYRUZ










