Deras deru mesin diesel meraung di balik rimbunnya hutan Desa Tombi. Suara itu seolah menelan gemercik aliran sungai yang kian hari kian keruh, mengalirkan lumpur pekat bercampur merkuri ke hilir. Di sinilah, di salah satu sudut Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong, aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) tumbuh subur bagai cendawan di musim hujan, merobek isi bumi demi segenggam logam mulia.
PARIGI, EQUATORNEWS – Praktik tambang ilegal di Desa Tombi bukan lagi rahasia yang tersimpan rapat di bawah karpet. Ia telah menjelma menjadi gurita industri bayangan yang melibatkan modal besar, alat berat, dan jejaring sosial yang rumit. Penelusuran mendalam mendapati bahwa eksploitasi ini tidak hanya merusak bentang alam secara masif, tetapi juga menciptakan bom waktu ekologis bagi masyarakat sekitar.
Hutan yang dulunya menjadi benteng hijau penahan longsor, kini berganti rupa menjadi lubang-lubang menganga. Pohon-pohon bertumbangan, berganti dengan hamparan tanah gersang dan kubangan air raksasa berwarna cokelat kehijauan. Ekskavator atau alat berat hilir mudik tanpa hambatan, mengeruk material pembawa emas dari perut bumi. Ironisnya, aktivitas destruktif ini kerap berlangsung di kawasan yang secara ekologis sangat rentan.
Berdasarkan literatur terkini mengenai dampak penambangan emas skala kecil, ancaman terbesar yang mengintai mengalir bersama air: merkuri (Hg). Penggunaan merkuri dalam proses amalgamasi (pemisahan emas dari batuan) di lokasi PETI menguap ke udara dan merembes ke air tanah. Limbah ini berisiko masuk ke dalam rantai makanan lokal melaui bioakumulasi pada ikan dan biota air, yang pada akhirnya memicu degradasi kesehatan akut, mulai dari gangguan saraf hingga cacat lahir bagi generasi mendatang.
Sisi sosiologis dari lingkaran setan PETI ini juga memprihatinkan. Di balik janji kesejahteraan instan yang ditawarkan, terdapat realita pahit berupa kerentanan sosial. Perputaran uang yang cepat di area lingkar tambang nyatanya tidak berbanding lurus dengan pembangunan desa yang berkelanjutan. Yang tersisa justru konflik horizontal antarwarga, ketergantungan ekonomi yang semu, serta abainya aspek keselamatan kerja (K3) yang kerap memakan korban jiwa akibat tertimbun longsoran lubang galian.
Hingga laporan ini diturunkan, deru mesin di Desa Tombi belum juga surut. Penegakan hukum yang tegas dan komprehensif dari pihak berwenang ditantang untuk segera mengakhiri pesta pora oligarki tambang ilegal ini, sebelum alam Ampibabo benar-benar lumpuh dan tak lagi menyisakan apa-apa bagi masa depan.
FAYRUZ









