PARIGI, EQUATORNEWS – Ruang sidang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Parigi Moutong riuh oleh retorika yang teratur, Rabu, 16 September 2026. Di balik dinginnya ruang rapat dan dentang palu Paripurna Penyampaian Hasil Reses Masa Persidangan III Tahun 2026, lembar-lembar Laporan Hasil Reses dibacakan—merangkum denyut, kecemasan, dan angan-angan warga dari pelosok desa hingga pesisir Teluk Tomini.
Ni Wayan Leli Pariani dan Salimun Mantjabo bergantian menyuarakan jaring aspirasi yang dihimpun para wakil rakyat pada 3–8 Agustus lalu. Laporan reses itu bagai cermin bening yang memantulkan asa dan ketimpangan: tentang jalan-jalan desa yang retak, jembatan yang tak kunjung kokoh, hingga kecemasan para petani yang merindukan kepastian pupuk, irigasi, dan teknologi pascapanen.
Di pesisir, denyut kehidupan nelayan bergema lewat usulan bantuan perahu, alat tangkap yang memadai, tempat pelelangan ikan yang layak, hingga akses menuju lokasi perikanan. Sementara dari ceruk-ceruk pemukiman, warga memanggil hadirnya penanganan banjir yang menyeluruh, perbaikan drainase, penyediaan fasilitas pendidikan dan kesehatan, serta ruang bagi generasi muda dan UMKM yang tertatih mencari modal.
Dokumen hasil reses tersebut bukan sekadar tumpukan kertas administrasi persidangan, melainkan jejak rekam tumpuan hidup rakyat Parigi Moutong yang digantungkan pada pundak dewan.
Wakil Bupati H. Abdul Sahid, yang hadir membacakan sambutan Bupati H. Erwin Burase, menyambut hasil reses DPRD tersebut dengan nada teduh. Pemerintah daerah, ujarnya, berjanji merajut seluruh aspirasi warga ke dalam tenunan dokumen perencanaan pembangunan. Namun, ada nada realistis yang terselip: setiap porsi usulan harus ditimbang dengan kemampuan fiskal, daya dukung sumber daya, dan kejelian menetapkan skala prioritas daerah.
Di tengah keterbatasan ruang anggaran, sinergi antara eksekutif dan legislatif kini menjadi pertaruhan. Hasil reses ini resmi diserahkan—berpindah tangan dari lembaran aspirasi menjadi benih kebijakan dan penganggaran. Bagi warga di tepian teluk hingga lereng perbukitan Parigi Moutong, rapat paripurna ini adalah awal dari pertaruhan transparansi dan kerja nyata yang dinanti wujudnya.
FAYRUZ










